REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Pos Indonesia (Persero) atau Pos IND berhasil melakukan efisiensi bisnis berkat penerapan sistem robotik dan artificial intelligence (AI) dalam proses pemilahan dan pelabelan (sorting and auto labelling) barang di Pos Indonesia.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Manajemen Portofolio Pos Indonesia Prasabri Pesti mengatakan Pos Indonesia sejak 2023 sudah mengimplementasikan robotic sorting untuk proses pemilahan paket berdasarkan kelompok tujuan, disusul implementasi robot auto labelling.
“Dampak dari penggunaan ini tentu ada efisiensi sudah 30 persen. Yang lebih penting di sini, ada kecepatan dari proses sorting. Dari sebelumnya membutuhkan 200 orang, sekarang hanya sekitar 40 orang,” ujar Prasabri saat silaturahmi media di Gedung Kantor Pusat Pos Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Prasabri menyampaikan inovasi tersebut sejalan dengan transformasi perusahaan. Dia menjelaskan teknologi ini berfungsi menyortir barang secara otomatis ke kantong-kantong yang telah dikelompokkan berdasarkan tujuan hingga kurir pengantar.
“Barang diletakkan di atas sistem, lalu robot mencari kantong yang sesuai dengan alamat penerima,” ujar dia.
Prasabri mengatakan teknologi robotic sorting telah diterapkan di Kantor Pos Surabaya sebanyak 150 robot, Jakarta Timur dengan 400 robot, dan segera menyusul Yogyakarta. Dia menjelaskan sistem ini beroperasi 24 jam. Penyortiran umumnya dilakukan malam hingga pagi hari sehingga terdapat slot kosong antara pukul 10.00–15.00 yang dapat dimanfaatkan oleh operator kurir lain.
“Jadi memang kita menyiapkannya. Konsepnya, harapannya bukan hanya untuk Pos IND, tetapi memang untuk industri kurir Indonesia. Positioning Pos IND ini akan menjadi backbone industri kurir Indonesia,” lanjut Prasabri.
Selain robotic sorting, sambung dia, Pos IND juga menerapkan Auto Labeling Robot yang berfungsi menempelkan label resi pada amplop atau paket secara otomatis. Sebelumnya, proses ini dilakukan secara manual oleh banyak tenaga kerja, termasuk pemberdayaan anak-anak PKL atau magang.
“Implementasi robotik terbukti menurunkan kebutuhan manpower hingga sekitar 36 persen pada fungsi sortir,” ungkapnya.
Ia menyampaikan pekerjaan yang sebelumnya bersifat klerikal dan repetitif seperti mengambil paket dan memasukkannya ke kantong berdasarkan wilayah kini digantikan robot dengan tingkat akurasi operasional di atas 99 persen. Apabila terjadi kesalahan atau barang masuk ke sandbox tertentu, penanganan manual tetap dilakukan.
“Namun secara umum, sistem ini jauh lebih cepat dan akurat,” lanjutnya.
Prasabri menegaskan penerapan teknologi harus dibarengi dengan kebijaksanaan (wisdom) dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Dia menyampaikan AI dan otomatisasi tidak boleh semata-mata menggantikan manusia tanpa perencanaan. Menurut dia, keseimbangan antara efisiensi teknologi dan tenaga kerja menjadi prioritas perusahaan. Prasabri menyebut alih fungsi SDM dapat difokuskan pada fungsi lain yang lebih strategis.
“Kita menerapkan teknologi dengan tetap menjaga keseimbangan SDM sehingga orang-orangnya itu bisa kita mutasikan ke tugas-tugas lain. Jadi karyawan yang terdampak tidak diberhentikan, melainkan dialihkan ke fungsi lain yang lebih produktif,” kata Prasabri.

14 hours ago
10








































