REPUBLIKA.CO.ID, NIKOSIA – Negara tetangga Siprus dan Yunani belakangan kian rajin memburu warga keturunan Palestina dengan tudingan keterlibatan dengan kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Perburuan yang sampai ke Indonesia ini tak lepas dari kerja sama negara itu dengan Israel yang terus meningkat belakangan.
Pada Juni lalu, hakim di Yunani memerintahkan penahanan praperadilan terhadap seorang pria Palestina yang dituduh menjadi bagian dari jaringan terkait Hamas yang merencanakan serangan terhadap target-target Israel di Eropa dan Asia; demikian disampaikan oleh sumber-sumber hukum dan kepolisian.
Tersangka berusia 37 tahun itu—yang membantah melakukan pelanggaran—ditangkap pada 6 Juni di Pulau Kreta dalam sebuah operasi gabungan yang melibatkan badan intelijen Yunani dan unit antiterorisme kepolisian, menurut keterangan pihak berwenang.
Polisi menyita sejumlah ponsel, sebuah laptop, dan harddisk dari tempat tinggalnya, dan penyidik menemukan bukti bahwa ia telah memesan bahan-bahan secara daring yang dapat digunakan untuk membuat bahan peledak, namun belum menerimanya. Pengacaranya mengatakan kepada Reuters bahwa bukti tersebut lemah dan menunjukkan adanya ketidaksesuaian.
"Karakter, pola pikir, dan sikap terdakwa secara keseluruhan sama sekali tidak mencerminkan profil seorang penjahat ataupun teroris. Sebaliknya, ia tampaknya dijadikan kambing hitam dalam kasus yang didasarkan pada bukti lemah dan penuh dengan celah signifikan," ujar pengacara pidana Spyridon Pantazis.
Penangkapan di Yunani ini menyusul penahanan dua warga Palestina, yang masing-masing berusia 32 dan 38 tahun, di Siprus pada 22 Mei. Menurut keterangan polisi, keduanya sedang diselidiki atas dugaan keterlibatan dalam kegiatan terkait terorisme setelah ditemukannya bahan pembuat bahan peledak saat penggeledahan.
Menurut sumber kepolisian Yunani, kedua kasus tersebut saling terkait. Salah satu tersangka yang ditahan di Siprus mengatakan kepada pihak berwenang setempat bahwa ia meyakini pihak perekrut mereka merencanakan serangan di Yunani, Siprus, Turki, Myanmar, Thailand, dan Malaysia—tempat mereka menjalani pelatihan mengenai bahan peledak—demikian ungkap sumber-sumber tersebut.
Pria berusia 37 tahun yang ditangkap di Kreta itu tiba di Yunani pada tahun 2023 setelah bertahun-tahun tinggal di Gaza, dan ia telah diberikan suaka. Penyelidikan menemukan bahwa pada tahun 2025, ia bepergian ke Malaysia dan bertemu dengan salah satu pria yang belakangan ditahan di Siprus.
Yaakov Chaliotis, seorang konsultan intelijen, menuliskan di Times of Israel bahwa Siprus kini menjadi mitra tepercaya di kawasan sekitar yang memiliki ikatan kuat dengan Uni Eropa, yang menawarkan kedekatan bagi Israel tanpa ketergantungan, serta hubungan yang mendalam tanpa ikatan kewajiban yang mengikat.
Selepas peristiwa 7 Oktober Siprus menjadi tempat perlindungan dan titik transit bagi warga Israel serta warga negara asing yang melarikan diri. Reuters melaporkan kedatangan massal warga negara Amerika dari Israel. Kepulauan itu hanya empat puluh menit pelayaran dari Tel Aviv.
Siprus juga memiliki arti penting karena alasan yang lebih kelam. Negara ini telah menjadi arena yang kerap muncul dalam perang bayangan melawan Iran. Sejak 2021, kerap terjadi penangkapan terhadap pihak yang dituding mata-mata Iran dengan informasi dari Mossad. Sedikit saja penangkapan ini yang berujung vonis di pengadilan.
Sylvain Henry seorang penulis Yunani yang bekerja dengan Cyprus Refugee Council juga menuliskan soal peningkatan kerja sama Israel-Siprus itu di the New Arab. Ia menuliskan, pada akhir Desember, Israel, Yunani, dan Siprus menyetujui kerangka kerja baru untuk memperdalam kerja sama pertahanan di kawasan Mediterania timur.

23 hours ago
17

















































