REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Daun singkong yang selama ini identik sebagai bahan sayuran kini diolah menjadi produk pangan bernilai ekonomi melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif. Inovasi tersebut diperkenalkan kepada warga Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026), sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal.
Program pengabdian masyarakat ini merupakan kolaborasi dosen Fakultas Teknik dan Informatika bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBSI yang melibatkan dua mahasiswa. Kegiatan dipimpin oleh Teni Agustina, serta diikuti oleh 10 peserta yang terdiri atas ibu-ibu PKK dan pelaku UMKM setempat.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan teknik mengolah daun singkong menjadi dendeng nabati yang memiliki cita rasa gurih dan tekstur menyerupai dendeng pada umumnya. Proses pembuatannya meliputi perebusan, penghalusan, pencampuran bumbu rempah, hingga proses penggorengan sehingga menghasilkan produk yang siap dipasarkan.
Selain memanfaatkan daun singkong yang melimpah di wilayah tersebut, peserta juga mendapatkan pelatihan pembuatan keripik singkong dengan berbagai varian rasa, seperti balado, keju, jagung bakar, dan original. Tim pengabdian turut memberikan pendampingan mengenai teknik pengemasan dan pelabelan agar produk memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UBSI, Teni Agustina, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mendorong masyarakat memanfaatkan potensi pangan lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Kami ingin masyarakat melihat bahwa daun singkong tidak hanya dapat diolah sebagai sayuran, tetapi juga menjadi produk inovatif yang memiliki peluang usaha. Harapannya, keterampilan ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pemanfaatan hasil pertanian lokal," ujarnya.
Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan, Shafira, mengatakan antusiasme warga terlihat sepanjang pelatihan berlangsung. Menurutnya, peserta aktif mempraktikkan setiap tahapan pembuatan produk dan berdiskusi mengenai peluang pemasarannya.
"Warga sangat antusias mengikuti pelatihan. Mereka langsung mencoba membuat produk dan banyak bertanya mengenai cara mengembangkan usaha agar hasil olahan ini dapat dipasarkan lebih luas," katanya.
Perwakilan Kelompok Tani Desa Cikeas, Wahyu, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan tim pengabdian masyarakat UBSI. Menurutnya, inovasi pengolahan daun singkong menjadi dendeng memberikan alternatif baru dalam meningkatkan nilai jual hasil panen masyarakat.
"Kami berharap keterampilan yang diberikan dapat terus dikembangkan oleh warga sehingga hasil pertanian yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah bisa diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi," kata dia.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim pengabdian masyarakat juga menghibahkan sejumlah peralatan produksi kepada kelompok tani, di antaranya alat pemotong singkong otomatis, alat peniris minyak, mesin vacuum sealer, kompor, alat kukus, peralatan penggorengan, bahan baku awal, serta kemasan dan label produk.
Teni menjelaskan bahwa hibah tersebut diberikan agar masyarakat dapat langsung memulai produksi secara mandiri setelah pelatihan selesai.
"Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada proses belajar saja. Dengan adanya peralatan produksi, masyarakat dapat langsung mempraktikkan keterampilan yang diperoleh dan mengembangkannya menjadi usaha yang berkelanjutan," ucap dia.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat ini, UBSI berharap inovasi pengolahan daun singkong menjadi dendeng dapat menjadi alternatif usaha bagi masyarakat desa. Ke depan, tim pengabdian juga akan memberikan pendampingan lanjutan terkait legalitas usaha, pengembangan kemasan, serta strategi pemasaran agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

9 hours ago
7














































