Jawara Piala Dunia tak Dibangun dalam 90 Menit

8 hours ago 13

Oleh: Salahuddin El Ayyubi, Dosen dan Peneliti IPB University

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap empat tahun sekali, dunia seolah melambat dan berhenti sejenak. Miliaran manusia dengan sukarela merelakan waktu istirahatnya hingga dini hari, jalanan kota mendadak lengang, sementara kafe-kafe dan ruang keluarga riuh dipenuhi sorak-sorai penonton. Bola yang menggelinding dan ditendang di lapangan hijau secara magis mampu mengkonsolidasikan perhatian umat manusia dari berbagai latar belakang agama, bangsa, bahasa, dan sekat kebudayaan.

Kita begitu fasih menghafal nama-nama besar seperti Lionel Messi, Kylian Mbappé, Mohamed Salah, Achraf Hakimi, hingga Sadio Mané. Kita juga begitu semangat memperdebatkan taktik pelatih, integritas wasit, statistik pertandingan, hingga probabilitas juara bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan.

Namun di balik gegap gempita itu, ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah kita ajukan ke permukaan: Mengapa ada bangsa yang secara konstan mampu melahirkan barisan talenta kelas dunia, sementara sebagian bangsa lainnya hanya menjadi penonton abadi?

Pertanyaan ini jauh lebih penting ketimbang sekadar menebak siapa yang akan mengangkat trofi di podium final. Sebab, panggung Piala Dunia tidak sekadar mempertandingkan sebelas pemain melawan sebelas pemain di atas rumput hijau. Tetapi merupakan arena pertarungan yang menguji kualitas sistem pendidikan, komitmen investasi sumber daya manusia, tata kelola kelembagaan, budaya disiplin, kedalaman riset, tingkat kesehatan masyarakat, hingga arah kebijakan pembangunan jangka panjang sebuah negara. Trofi emas yang diangkat tinggi pada malam final hanyalah sebuah pucuk hilir dari kemenangan sejati yang telah dicetak di sektor hulu sejak puluhan tahun sebelumnya.

Juara Tidak Lahir dalam 90 Menit

Banyak di antara kita yang keliru membayangkan bahwa kemenangan sebuah tim murni ditentukan oleh strategi pelatih selama sembilan puluh menit jalannya laga. Padahal, waktu sembilan puluh menit di bawah lampu stadion hanyalah etalase terakhir dari sebuah rantai proses pembangunan yang teramat panjang dan melelahkan. 

Keberhasilan Maroko menembus babak semifinal Piala Dunia 2022 sama sekali bukan sebuah kebetulan. Langkah Qatar membangun ekosistem olahraga modern bukan sekadar urusan mematangkan diri sebagai tuan rumah, dan keputusan Arab Saudi mengintegrasikan olahraga ke dalam struktur transformasi ekonominya bukanlah sebuah kebijakan yang lahir dari ruang hampa. Begitupun dengan kehadiran seperti Mohamed Salah tidak lahir dari keberuntungan, Sadio Mané bukan hasil dari lotre sejarah, dan Achraf Hakimi bukanlah produk instan yang membalik telapak tangan.

Di belakang profil pemain hebat, berdiri kokoh institusi keluarga yang mendidik, mentor yang mengarahkan bakat, akademi yang membina secara sungguh-sungguh, universitas yang memasok riset, institusi medis yang mengawal kebugaran fisik, federasi yang dikelola secara profesional, serta negara yang memiliki nyali politik untuk berinvestasi secara serius pada dunia olah raga.  Dengan kata lain, tim yang memenangkan trofi bukanlah mereka yang sekadar memiliki bakat alamiah terbaik, melainkan bangsa yang paling sabar dan tabah dalam membangun manusia. Pada titik inilah, sepak bola bertransisi dari sekadar permainan ketangkasan menjadi sebuah pelajaran berharga tentang filosofi kebijakan pembangunan.

Ironisnya, di banyak negara olahraga masih diposisikan sebagai sektor pelengkap pembangunan. Ketika ruang fiskal menyempit, maka investasi pada pembinaan olahraga dan kepemudaan dipandang sebagai pengeluaran yang dapat ditunda. Padahal olahraga bukan sekadar aktivitas rekreatif atau kompetisi, melainkan instrumen strategis pembangunan manusia. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) bahkan menegaskan bahwa sektor olahraga masih mengalami kondisi underfunded dan undervalued, padahal bukti mengenai kontribusinya terhadap kesehatan, pendidikan, kohesi sosial, produktivitas, hingga pertumbuhan ekonomi justru semakin menguat.

Sebaliknya, negara-negara yang berhasil membangun tradisi sepak bola tidak memandang olahraga sebagai beban anggaran, melainkan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan modal insani (human capital). Mereka mengintegrasikan pembinaan olahraga dengan sistem pendidikan, layanan kesehatan, riset ilmu keolahragaan, serta pengembangan karakter generasi muda. Dalam paradigma seperti ini, prestasi di lapangan bukanlah tujuan akhir, melainkan buah dari investasi yang konsisten terhadap kualitas manusia. 

Ketika Rasulullah SAW pertama kali menginjakkan kaki di Madinah, beliau tidak mengawali blueprint pembangunannya dengan mendirikan benteng pertahanan atau membangun pasar tetapi yang dieksekusi adalah membangun manusianya. Beliau mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar sebagai ikhtiar taktis untuk membangun modal sosial (social capital) yang kokoh guna menopang stabilitas ekonomi dan kohesi kehidupan bermasyarakat. Barulah setelah modal insani dan modal sosial ini mengakar kuat, pasar Madinah didirikan sebagai fondasi kemandirian ekonomi umat.

Dalam kacamata ekonomi pembangunan modern, Rasulullah SAW sesungguhnya sedang mendemonstrasikan sebuah keteladanan dengan membangun tiga pilar modal utama secara simultan dan berjenjang: modal insani (human capital), modal sosial (social capital), dan modal kelembagaan (institutional capital). Beliau mengajarkan sebuah postulat peradaban bahwa kejayaan sebuah bangsa tidak pernah dimulai dari kemegahan infrastruktur fisiknya, melainkan harus selalu bersumber dari kualitas manusianya. 

Sayangnya, kebijakan makro pembangunan kita lebih sering mengukur keberhasilan dari apa yang tampak di permukaan (gedung yang menjulang, stadion yang megah, atau infrastruktur yang berdiri kokoh). Padahal pembangunan yang paling menentukan justru sering tidak kasatmata seperti kualitas manusia, budaya disiplin, karakter, dan institusi yang kuat. Satu kaidah ushul fiqh menyebutkan: 

اَلْعِبْرَةُ بِالْمَعَانِيْ وَالْحَقَائِقِ لَا بِالْمَبَانِيْ وَالْأَلْفَاظِ

“Tolok ukur (suatu hal) adalah hakikat dan maknanya, bukan sekadar bentuk redaksi dan lafalnya.”

Kaidah ini mengajarkan bahwa yang dinilai bukan semata-mata penampilan luar, melainkan substansi dan tujuan yang hendak diwujudkan. Dalam konteks pembangunan, stadion hanyalah bangunan fisik, sedangkan manusia yang dibentuk melalui proses pendidikan, pembinaan, dan kedisiplinan adalah substansi yang menentukan masa depan bangsa.

Menuju Paradoks Baru: Mengukur ‘Return on Maslahah’

Pada titik inilah sistem ekonomi syariah hadir menawarkan sebuah perubahan radikal terhadap cara pandang konvensional yang kerap kali menilai keberhasilan sebuah investasi melalui indikator kuantitatif finansial seperti Return on Investment (ROI). Semakin tebal margin keuntungan finansial yang masuk ke dalam kas, semakin investasi tersebut dinobatkan sebagai keberhasilan. 

Sebaliknya, ekonomi syariah menggariskan indikator yang jauh lebih luas dan transformatif bahwa tujuan akhir dari sebuah pembangunan bukanlah pertumbuhan ekonomi yang berdiri sendiri secara mekanis, melainkan terwujudnya kebermanfaatan yang merata (maslahah).

Oleh karena itu, investasi tertinggi bukanlah aktivitas menanam modal yang hanya bermuara pada tumpukan laba material, melainkan investasi yang melahirkan manusia-manusia yang sehat kesadarannya, jernih akal pikirannya, berintegritas karakternya, produktif etos kerjanya, serta mampu mentransfer manfaat bagi kemanusiaan.

Dalam ruang analisis inilah kita semestinya mulai berbicara tentang paradigma Return to Maslahah yaitu ketika institusi pembinaan olahraga berhasil mencetak pemuda yang berdisiplin tinggi, melepaskan mereka dari jerat destruktif narkotika, membuka lapangan kerja baru, menggerakkan roda industri kreatif, sekaligus mengharumkan nama bangsa di panggung internasional, maka surplus manfaat yang diproduksi sesungguhnya telah melompat jauh melompati angka-angka mati di atas lembar laporan keuangan. 

Efek Berganda Investasi Modal Insani

Hari ini banyak atlet Muslim berhasil menembus panggung olahraga internasional dan menjadi simbol prestasi bagi bangsa mereka. Sejatinya, mereka bukan sekadar bintang di lapangan hijau, tetapi bukti nyata keberhasilan membangun modal insani (human capital) melalui proses yang panjang dan terencana.

Di balik setiap atlet kelas dunia terdapat ekosistem pembinaan yang bekerja secara berkesinambungan. Keluarga menanamkan karakter, sekolah membangun fondasi pendidikan, pelatih mengasah keterampilan, akademi menyediakan sistem pembinaan, sementara negara menghadirkan kebijakan, infrastruktur, dan tata kelola yang memungkinkan potensi itu berkembang secara optimal. 

Menariknya, manfaat investasi tidak hanya berhenti disitu saja, tetapi terus berlanjut ketika mereka kembali membangun masyarakatnya melalui akademi olahraga, yayasan sosial, program pendidikan, layanan kesehatan, hingga berbagai kegiatan filantropi yang membuka peluang bagi generasi berikutnya. Kehadiran mereka juga mengangkat citra bangsa, memperkuat industri olahraga, menggerakkan ekonomi kreatif, dan menjadi duta budaya yang menunjukkan bahwa profesionalisme, integritas, dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan beriringan. Inilah yang kita sebut efek berganda (multiplier effect) dari investasi modal insani yaitu ketika investasi pada satu manusia berkualitas melahirkan manfaat yang terus menyebar kepada masyarakat, bahkan lintas generasi.

Empat tahun lagi, lampu-lampu stadion akan kembali menyala terang dan panggung Piala Dunia akan kembali membius miliaran pasang mata. Trofi emas akan kembali diperebutkan dengan segala drama di atas lapangan hijau. Namun, sejarah panjang bangsa-bangsa di dunia telah memberikan pelajaran bahwa masa depan sebuah peradaban tidak pernah ditentukan oleh siapa yang memenangkan satu atau dua pertandingan sesaat.

Sebaliknya, sejarah akan selalu berpihak pada siapa yang paling sabar dan konsisten menanam investasi pada pembangunan manusianya. Stadion megah dapat diselesaikan pembangunannya dalam hitungan beberapa tahun saja, namun manusia-manusia unggul hanya akan lahir dari rahim kebijakan pembangunan yang dikerjakan dengan penuh kesabaran.

Ekonomi syariah hadir mengembalikan kesadaran kita bahwa investasi terbaik bukanlah yang hanya memburu keuntungan material semata dalam waktu yang singkat. Tetapi investasi terbaik adalah ikhtiar yang melahirkan manusia-manusia paripurna yang mampu menghadirkan kemaslahatan sebesar-besarnya bagi tegaknya sebuah bangsa dan peradaban. 

Wallahu a’lam

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |