Distraksi Digital: Alasan Kita Makin Sulit Khatam Satu Buku

16 hours ago 15

Image Khalfani Winata

Gaya Hidup | 2026-07-09 22:31:47

Coba tanya diri sendiri: ada berapa banyak buku di rak atau di aplikasi e-book kamu yang cuma sempat "disentuh" sampai bab dua, lalu terbengkalai berbulan-bulan? Saya salah satu pelakunya. Semangat baca sudah menyala, kopi sudah diseduh, halaman pertama sudah terbuka tapi begitu baru tiga lembar, tangan otomatis meraih ponsel. Buka satu aplikasi, geser layar, geser lagi, dan tanpa sadar 40 menit sudah lewat tanpa satu pun kalimat dari buku itu yang benar-benar terserap ke kepala

*Ilustrasi. Foto: Unsplash/Nathana Reboucas

Kalau kamu mengalami hal yang sama, tenang saja, kamu tidak sendirian. Dan ternyata, ini bukan melulu soal "kurang niat" atau "pemalas". Ada alasan yang jauh lebih mendasar kenapa kemampuan kita fokus membaca terus tergerus di zaman serba digital seperti sekarang.

Data yang Bikin Kita Manggut-manggut

Bicara soal minat baca orang Indonesia, datanya sebenarnya cukup membingungkan. Di satu sisi, Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) mencatat perkembangan positif berkat program digitalisasi layanan dan gerakan literasi berbasis komunitas sepanjang 2024–2025. Namun di sisi lain, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa skor kegemaran membaca masyarakat kita masih bertengger di level sedang saja.

Uniknya, persoalan ini sebenarnya bukan cerminan "orang Indonesia yang malas baca" semata. Ini adalah fenomena yang terjadi di mana-mana, erat kaitannya dengan cara kita menjalani hidup berdampingan dengan layar setiap harinya.

Kenapa Fokus Kita Gampang Buyar?

Dari sudut pandang ilmiah, ada penjelasan yang cukup masuk akal untuk fenomena ini. Sebuah meta-analisis yang merangkum 32 studi dan terbit di Frontiers in Psychology mendapati bahwa gangguan seperti notifikasi ponsel selama membaca secara konsisten memperlemah kemampuan memahami isi bacaan. Yang menarik, pola ini relatif stabil dari waktu ke waktu meskipun teknologi terus berevolusi, pertanda bahwa persoalan distraksi ini sudah mengakar dalam, bukan sekadar tren yang datang dan pergi.

Studi lain yang dimuat di Journal of Computer Assisted Learning bahkan memakai teknologi pelacak gerak mata untuk mengamati langsung bagaimana perhatian pembaca "kabur" begitu ada elemen visual lain yang muncul di layar. Temuan ini menegaskan pentingnya kesadaran mengendalikan atensi, terutama untuk bacaan yang menuntut pemahaman mendalam.

Ada satu analogi yang cukup menohok dari riset soal literasi digital: internet diibaratkan seperti mesin jackpot terbesar sedunia. Setiap kali kita online, otak tidak pernah tahu pasti hadiah apa yang akan muncul berikutnya, apakah notifikasi menarik, gosip baru, atau video kocak. Justru ketidakpastian semacam ini yang membuat kita ketagihan terus mengecek layar. Berbeda dengan buku yang alurnya pelan dan menuntut kesabaran, gulir media sosial menjanjikan kepuasan instan yang jauh lebih menggoda untuk otak kita.

Bukan Sepenuhnya Salah Kita

Menurut saya, penting untuk tidak terlalu keras menghakimi diri sendiri soal ini. Otak kita memang sedang "diprogram ulang" oleh pola konsumsi informasi yang serba instan dan terpotong-potong. Rentang perhatian yang kian menyempit, kesulitan mencerna bacaan panjang, sampai kelelahan mental akibat derasnya arus informasi, semuanya adalah konsekuensi nyata dari kebiasaan digital yang kita jalani tiap hari.

Meski begitu, bukan berarti kita harus pasrah begitu saja. Beberapa langkah kecil yang mulai saya praktikkan: menyimpan HP di ruangan berbeda saat membaca, menetapkan target yang realistis (contohnya 15 menit tanpa gangguan), dan lebih memilih buku fisik ketimbang e-book agar tidak tergoda notifikasi yang sama.

Penutup

Membaca buku di era sekarang memang menuntut usaha lebih bukan karena kita pemalas, melainkan karena kita sedang berhadapan dengan sistem yang sengaja dirancang untuk terus mengalihkan perhatian kita. Yang terpenting, kita mulai menyadari bahwa ini adalah tantangan bersama, lalu perlahan mencari cara untuk "mengambil kembali" fokus yang sempat hilang. Toh, ada kepuasan tersendiri kan, ketika akhirnya bisa menuntaskan satu buku tanpa jeda buka HP tiap lima menit?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |