Indo-Pasifik dan Kembalinya Politik Kapal Selam

5 hours ago 6

Oleh: Yuri O Thamrin; duta besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (2016-2020)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika membahas rivalitas Amerika Serikat dan China di Indo-Pasifik, perhatian publik biasanya tertuju pada kapal induk, perang dagang, Taiwan, atau perebutan pengaruh diplomatik. Namun di bawah permukaan laut, persaingan lain yang jauh lebih sunyi sedang berlangsung: perlombaan kapal selam.

Dalam beberapa tahun terakhir, kapal selam kembali menjadi salah satu instrumen terpenting dalam perimbangan kekuatan global. Artikel The Economist edisi 9 Mei 2026 tentang persaingan kapal selam AS-China menunjukkan bahwa laut dalam kembali menjadi arena strategis utama, mengingat kapal selam masih merupakan salah satu platform militer paling sulit dideteksi di era modern.

Hal ini penting karena perang modern semakin transparan. Satelit, drone, radar, sensor, dan artificial intelligence membuat pergerakan militer di darat, laut, dan udara semakin mudah dipantau. Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk “menghilang” menjadi sangat berharga. Di sinilah kapal selam memperoleh kembali relevansinya.

Amerika masih memiliki keunggulan besar dalam perang bawah laut. Armada kapal selam nuklir AS, terutama kelas Virginia dan Los Angeles, dianggap lebih senyap, lebih berpengalaman, dan memiliki kemampuan operasi jarak jauh yang belum sepenuhnya dapat ditandingi China.

Kapal selam kelas Virginia, misalnya, dirancang untuk berbagai misi sekaligus: berburu kapal selam lawan, menyerang target darat dengan rudal Tomahawk, mengumpulkan intelijen, hingga mendukung operasi pasukan khusus. Tingkat kesenyapannya membuat kapal ini sangat sulit dideteksi.

Sementara itu, kapal selam kelas Los Angeles yang lebih tua tetap menjadi tulang punggung penting armada bawah laut Amerika. Meski sebagian mulai menua, kapal ini memiliki pengalaman operasional panjang sejak akhir Perang Dingin dan tetap dipandang sangat mematikan dalam perang bawah laut. Pangkalan Guam sendiri menjadi salah satu pusat penting operasi bawah laut AS di Indo-Pasifik.

Dalam berbagai simulasi konflik Taiwan, kapal selam AS diperkirakan akan memainkan peran sentral. Kapal selam dapat menyerang armada laut lawan, memblokade jalur suplai, meluncurkan rudal jarak jauh, mengumpulkan intelijen, hingga menyusupkan pasukan khusus. Bahkan, banyak analis menilai kapal selam mungkin lebih menentukan dibanding kapal induk dalam fase awal konflik besar di Pasifik.

Namun keunggulan tersebut tidak membuat Washington tenang. China terus mempercepat modernisasi angkatan lautnya, termasuk armada kapal selam dan kemampuan anti-submarine warfare. Beijing tampaknya memahami bahwa selama Amerika tetap dominan di bawah laut, kemampuan China untuk mengontrol kawasan sekitar Taiwan dan Laut China Selatan akan selalu menghadapi hambatan besar.

Peta kekuatan bawah laut Indo-Pasifik juga semakin kompleks. Amerika memang masih unggul dalam kemampuan operasi kapal selam global, tetapi China terus memperbesar dan memodernisasi armadanya dengan cepat, termasuk kapal selam nuklir dan diesel-electric yang semakin senyap.

Di luar AS dan China, Rusia tetap merupakan kekuatan bawah laut penting, terutama melalui armada Pasifiknya yang berbasis di Vladivostok. Meski perang Ukraina menguras banyak sumber daya Rusia, kemampuan kapal selam nuklir Moskwa tetap menjadi faktor strategis yang diperhitungkan Washington.

Sementara itu, negara-negara lain di Indo-Pasifik juga memperkuat kemampuan bawah laut mereka. Jepang memiliki salah satu armada kapal selam konvensional paling canggih di dunia. Australia melalui AUKUS sedang menuju era kapal selam bertenaga nuklir. India terus mengembangkan armada bawah lautnya untuk menghadapi China di Samudra Hindia. Bahkan negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Singapura, dan Vietnam juga meningkatkan kemampuan kapal selam mereka, meskipun dalam skala yang lebih terbatas.

Karena itu, rivalitas bawah laut kini menjadi bagian penting dari kompetisi strategis AS-China yang lebih luas. Persaingan tidak lagi hanya soal perdagangan atau tarif, tetapi juga soal semikonduktor, artificial intelligence, rare earths, ruang angkasa, hingga penguasaan laut dalam.

Menariknya, kembalinya politik kapal selam juga memperlihatkan bagaimana Indo-Pasifik semakin menyerupai arena persaingan kekuatan besar seperti pada era Perang Dingin. Bedanya, jika dahulu fokus utama berada di Atlantik antara Amerika dan Uni Soviet, kini pusat gravitasi geopolitik dunia bergeser ke Indo-Pasifik.

Kesepakatan AUKUS antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia juga menunjukkan pentingnya dimensi bawah laut ini. Australia bahkan bersedia menginvestasikan dana sangat besar untuk memperoleh kapal selam bertenaga nuklir, sesuatu yang beberapa tahun lalu mungkin sulit dibayangkan. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa negara-negara sekutu Amerika semakin melihat deterrence bawah laut sebagai bagian penting dari strategi menghadapi China.

Bagi Indonesia, perkembangan ini perlu dicermati dengan serius. Indonesia memang bukan bagian dari rivalitas langsung AS-China, tetapi posisi geografis Indonesia sangat strategis. Jalur laut Indonesia menjadi salah satu penghubung penting antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Dalam konteks persaingan bawah laut, wilayah perairan Indonesia memiliki arti strategis yang jauh lebih besar daripada yang sering disadari publik.

Karena itu, tantangan Indonesia bukan sekadar menjaga netralitas diplomatik, tetapi juga memahami perubahan lingkungan strategis di sekitarnya. Rivalitas kapal selam bukan isu jauh yang hanya relevan bagi Washington atau Beijing. Ia merupakan bagian dari perubahan besar dalam geopolitik Indo-Pasifik yang secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi kawasan Asia Tenggara.

Pada akhirnya, kapal selam menarik bukan hanya karena teknologinya, tetapi juga karena simbolismenya. Ia bekerja dalam kesunyian, jarang terlihat publik, tetapi dapat mengubah perimbangan strategis secara signifikan. Dalam banyak hal, rivalitas bawah laut AS-China hari ini mencerminkan wajah geopolitik Indo-Pasifik modern: senyap, kompleks, penuh teknologi, tetapi sekaligus sarat perimbangan kekuatan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |