QUPRO Indonesia
Khazanah | 2026-07-16 11:19:58
Oleh: Ali Amril (Aktivis Filantropi Dunia Islam, CEO QUPRO Indonesia, Chairman Aliansi Kemanusiaan Indonesia - AKSI)
Pada 15 Juli 2026, sebuah serangan udara Israel menghantam apartemen di Deir al-Balah, Gaza bagian tengah. Omar Abu Qassem, istrinya, Asma, dan putri mereka yang baru berusia enam tahun, Habeeba, meninggal dunia. Putra mereka selamat dalam keadaan terluka.
Sehari sebelumnya, sepuluh warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan dan tembakan Israel. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun termasuk di antara korban. Pada 12 Juli, enam orang terbunuh, termasuk seorang anak perempuan berusia sembilan tahun.
Nama mereka mungkin hanya muncul beberapa detik di layar gawai kita. Namun bagi keluarganya, nama-nama itu adalah seluruh dunia.
Serangkaian serangan pada Juli ini menempatkan Gaza kembali dalam percakapan publik. Namun kita perlu jujur sejak awal: Gaza tidak sedang kembali berperang setelah lama hidup tenang. Kekerasan tidak pernah benar-benar berhenti.
Yang kembali pada Juli 2026 bukanlah perang. Yang kembali adalah perhatian kita.
Gaza Tidak Pernah Benar-Benar Sunyi
Gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025. Dunia menyambutnya dengan harapan bahwa pembunuhan akan berhenti, bantuan kemanusiaan dapat masuk, dan warga Gaza mulai menata hidup yang tersisa.
Harapan itu belum pernah benar-benar menjadi kenyataan seutuhnya hingga kini.
UNRWA mencatat 1.053 warga Palestina tewas dan 3.406 orang terluka sejak pengumuman gencatan senjata hingga 30 Juni 2026. Dalam rentang 7 Oktober 2023 sampai akhir Juni 2026, sebanyak 73.066 warga Palestina dilaporkan tewas dan 173.514 lainnya terluka di Gaza. Angka tersebut berasal dari Kementerian Kesehatan Gaza sebagaimana dilaporkan oleh klaster kesehatan PBB.
Pada Juni 2026 saja, serangan udara, tembakan, dan operasi militer masih menimbulkan korban. UNICEF bahkan menyebut keadaan pascagencatan senjata sebagai ilusi yang mematikan bagi anak-anak Gaza.
Kemudian Juli datang membawa daftar kematian baru. Pada 12 Juli, enam orang dilaporkan tewas, termasuk seorang anak perempuan berusia sembilan tahun. Pada 14 Juli, sepuluh orang tewas, termasuk seorang anak berusia sepuluh tahun. Pada 15 Juli, satu keluarga kehilangan ayah, ibu, dan seorang anak perempuan dalam satu serangan.
Maka, mengatakan bahwa serangan Israel “kembali terjadi” dapat memberi kesan seolah Gaza sempat aman. Gaza belum aman. Serangannya terus berlangsung, tetapi perhatian dunia bergerak ke tempat lain. Berita memiliki musim. Penderitaan tidak. Kamera dapat berpindah. Luka tidak ikut pergi.
Ketika Gencatan Senjata Tidak Menghadirkan Rasa Aman
Diplomasi mengenal banyak istilah: gencatan senjata, fase transisi, perundingan, rekonstruksi, koridor kemanusiaan, dan stabilisasi.
Bagi seorang ibu di Gaza, seluruh istilah itu memiliki ukuran yang jauh lebih sederhana: apakah anaknya dapat tidur malam ini tanpa suara ledakan?
Bagi seorang ayah, ukurannya adalah apakah ia dapat menemukan makanan, air bersih, obat, atau tempat yang cukup aman untuk keluarganya.
Bagi seorang anak, ukurannya adalah apakah besok ia masih memiliki rumah, sekolah, dan orang tua.
Selama pertanyaan-pertanyaan itu belum dapat dijawab dengan pasti, gencatan senjata masih menjadi bahasa di atas kertas. Damai tidak cukup diumumkan. Damai harus dapat dirasakan.
Sebagian besar dari sekitar dua juta penduduk Gaza masih hidup dalam pengungsian dan keterbatasan berat. Infrastruktur kesehatan, air, sanitasi, pendidikan, dan permukiman mengalami kerusakan luas. Bantuan kemanusiaan terus bekerja dalam ruang yang sempit, di bawah ancaman keamanan, kekurangan pendanaan, dan pembatasan akses.
Dunia menyebutnya krisis kemanusiaan. Bagi warga Gaza, itulah kehidupan sehari-hari.
Kegagalan Dunia
Tragedi Gaza telah memperlihatkan satu kenyataan pahit: dunia memiliki banyak lembaga, resolusi, pertemuan, dan pernyataan, tetapi belum mampu memberi perlindungan yang nyata kepada masyarakat sipil.
Kita melihat hukum internasional dibicarakan dengan lantang, lalu diterapkan dengan standar yang berbeda. Kita melihat jumlah korban terus dihitung, tetapi langkah untuk menghentikannya bergerak jauh lebih lambat.
Kita melihat negara-negara besar berbicara tentang perdamaian sambil tetap mempertahankan kepentingan politik, ekonomi, dan militernya.
Dunia tidak kekurangan informasi. Laporan tersedia. Nama korban tercatat. Foto kehancuran beredar. Kesaksian tenaga medis, jurnalis, relawan, dan keluarga korban terus disampaikan.
Yang kurang adalah keberanian untuk membuat keadilan berlaku tanpa pilih kasih.
Pada Juli 2026, Uni Eropa dan para mitranya memang mengumumkan komitmen sekitar satu miliar dolar Amerika Serikat untuk pemulihan Gaza. Langkah kemanusiaan seperti ini penting dan harus dihargai. Namun dana rekonstruksi tidak dapat menggantikan kewajiban menghentikan kekerasan. Membangun kembali gedung tanpa memastikan keselamatan penghuninya hanya menyiapkan bangunan untuk kembali dihancurkan.
Gaza membutuhkan bantuan. Gaza juga membutuhkan keadilan. Makanan dapat menahan lapar hari ini. Obat dapat meredakan sakit. Tenda dapat memberi perlindungan sementara. Namun keselamatan jangka panjang menuntut berakhirnya penjajahan, kekerasan, pengusiran, dan kehidupan yang terus dikendalikan oleh ketakutan.
Kiblat Perlawanan Umat
Kiblat menunjukkan arah. Gaza hari ini menunjukkan ke mana nurani umat harus berpihak.
Menjadikan Gaza sebagai kiblat perlawanan umat tidak berarti memuliakan perang atau merayakan kekerasan. Perlawanan yang kita maksud adalah penolakan terhadap kezaliman, pelupaan, ketidakpedulian, dan rasa tidak berdaya.
Perlawanan itu hidup ketika umat terus berdoa. Ia tumbuh ketika masyarakat menjaga suara Palestina agar tidak hilang dari ruang publik.
Ia hadir melalui tenaga kesehatan, relawan, jurnalis, diplomat, pendidik, pengusaha, dan pekerja kemanusiaan yang mengambil perannya masing-masing. Ia menjadi nyata ketika bantuan terus disalurkan secara amanah, terukur, dan berkelanjutan.
Palestina memiliki kedudukan yang dalam bagi umat Islam. Di tanah itu berdiri Masjid Al-Aqsa, tempat yang terikat dengan perjalanan iman, sejarah kenabian, dan kehormatan umat. Namun pembelaan kepada Palestina juga berdiri di atas dasar kemanusiaan yang paling mendasar: tidak ada anak yang pantas kehilangan keluarga karena bom, dan tidak ada bangsa yang pantas hidup tanpa kebebasan di tanahnya sendiri.
Gaza menjadi kiblat perlawanan umat karena umat tidak boleh berdamai dengan kezaliman. Arah itu harus tetap dijaga, bahkan ketika berita tentang Palestina mulai tenggelam, ketika percakapan publik berpindah, dan ketika perhatian manusia mulai lelah. Kelelahan kita tidak sebanding dengan kehidupan mereka.
Ketika Ekonomi Sedang Sempit
Ajakan membantu Palestina sering berhadapan dengan kenyataan yang dekat dengan kehidupan kita: harga kebutuhan meningkat, pekerjaan tidak selalu pasti, biaya pendidikan bertambah, cicilan berjalan, dan kebutuhan keluarga tidak dapat ditunda.
Kesulitan ekonomi itu nyata. Kita tidak boleh mengabaikannya atau membuat orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangga merasa bersalah.
Tidak semua orang mampu memberi dalam jumlah besar. Tidak semua orang memiliki kelapangan yang sama. Namun kepedulian tidak ditentukan oleh besarnya angka.
Di tengah ekonomi yang sempit, kita mungkin perlu mengecilkan jumlah. Jangan mengecilkan kepedulian.
Seribu rupiah, sepuluh ribu rupiah, atau berapa pun yang dapat disisihkan dengan ikhlas tetap memiliki nilai. Ketika dilakukan oleh banyak orang dan dikelola dengan amanah, bantuan kecil dapat menjadi makanan, air bersih, obat, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi keluarga yang membutuhkan.
Sedikit dari satu orang mungkin tampak kecil. Sedikit dari jutaan orang dapat menjaga kehidupan.
Berbagi juga tidak terbatas pada uang. Ada orang yang dapat membantu dengan tenaga. Ada yang memiliki jaringan. Ada yang mampu menulis, mengajar, membuat kampanye, membuka akses, atau mengajak lingkungannya bergerak. Ada pula yang menjaga Palestina melalui doa yang tidak pernah putus.
Setiap orang memiliki pintu kebaikannya sendiri. Yang tidak boleh terjadi adalah kesulitan ekonomi membuat hati kita ikut menjadi sempit.
Berbagi untuk Melawan Rasa Tidak Berdaya
Ketika melihat besarnya kehancuran di Gaza, mudah bagi seseorang untuk merasa bahwa bantuannya tidak berarti.
Apa arti satu paket makanan di tengah jutaan orang yang membutuhkan? Apa arti satu donasi kecil ketika pesawat tempur, blokade, dan kekuatan politik dunia masih bekerja?
Pertanyaan itu wajar. Namun rasa tidak berdaya adalah perang lain yang harus kita lawan.
Kita mungkin belum mampu menghentikan bom dari rumah masing-masing. Kita dapat memastikan bahwa keluarga yang selamat tidak menghadapi kelaparan, penyakit, dan kehilangan seorang diri.
Satu bantuan tidak menyelesaikan seluruh konflik. Ia dapat menyelamatkan satu kehidupan.
Satu donasi tidak mengubah seluruh peta politik. Ia dapat menghadirkan air untuk satu keluarga, obat untuk satu pasien, atau makanan untuk seorang anak.
Di hadapan penderitaan manusia, dampak tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dampak dimulai dari keputusan untuk tidak berpaling.
Berbagi adalah cara kita mengatakan kepada warga Palestina: kalian tidak ditinggalkan. Berbagi adalah cara kita menolak menjadi penonton.
Pertolongan Allah Itu Nyata
Di tengah seluruh keadaan ini, umat Islam tidak boleh kehilangan keyakinan kepada pertolongan Allah.
Keyakinan itu tidak tumbuh dari sikap pasif. Tawakal tidak pernah berarti menunggu tanpa ikhtiar. Dalam sejarah para nabi dan perjalanan umat, pertolongan Allah hadir bersama kesabaran, keberanian, persatuan, pengorbanan, dan usaha yang tidak berhenti.
Allah dapat menghadirkan pertolongan melalui tangan seorang dokter yang tetap merawat pasien dalam keterbatasan.
Melalui relawan yang mengantar bantuan. Melalui donatur yang menyisihkan penghasilannya. Melalui jurnalis yang mempertaruhkan keselamatan untuk menyampaikan kenyataan. Melalui pemimpin yang berani mengambil posisi. Melalui masyarakat yang terus berdoa, bersuara, dan bergerak.
Kita yakin pertolongan Allah itu dekat. Keyakinan tersebut harus membuat langkah kita semakin kuat, bukan membuat kita berhenti menunaikan tanggung jawab.
Hasil akhir berada dalam kuasa Allah. Pilihan untuk berpihak dan berikhtiar berada di tangan kita.
Pertolongan Allah bukan alasan untuk menunggu. Pertolongan Allah adalah alasan untuk terus bergerak tanpa kehilangan harapan.
Dunia Boleh Gagal, Umat Tidak Boleh Lelah
Juli 2026 kembali membawa Gaza ke hadapan kita. Namun perhatian kepada Palestina tidak boleh hidup hanya ketika serangan sedang ramai diberitakan.
Palestina membutuhkan keberpihakan yang panjang. Doa yang panjang. Bantuan yang panjang. Suara yang panjang.
Kita tidak tahu kapan keadilan akan sepenuhnya hadir. Kita juga tidak dapat menentukan kapan penjajahan dan kekerasan akan berakhir. Namun kita dapat menentukan di mana kita berdiri.
Dunia boleh gagal menghadirkan keadilan. Umat Islam tidak boleh gagal menjaga keberpihakan.
Mari terus membantu sesuai kemampuan. Mari memastikan bantuan disalurkan melalui lembaga yang amanah dan dapat dipertanggungjawabkan. Mari menjaga Palestina tetap hidup dalam percakapan keluarga, masjid, sekolah, kantor, komunitas, dan ruang publik.
Jangan biarkan kesibukan membuat kita lupa. Jangan biarkan kesempitan membuat kita berhenti berbagi. Jangan biarkan panjangnya penderitaan membuat kita kehilangan harapan.
Selama Gaza belum terbebas dari ketakutan, tanggung jawab kita belum selesai. Selama masih ada doa yang dipanjatkan, bantuan yang dikirimkan, dan suara yang dibangkitkan, umat ini belum kalah.
Gaza adalah arah nurani kita. Dan pertolongan Allah itu nyata.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
10









































