Di Tengah Perang, Remaja Perempuan Gaza Ubah Tenda Pengungsian Menjadi Galeri Seni

1 day ago 8

Perempuan muda Palestina, Marah Khaled Al-Za’anin (18) mengubah tenda pengungsiannya di lingkungan Al Rimal, Kota Gaza, menjadi ruang seni sederhana. Di dalam tenda pengungsiannya, terpampang karya-karya lukis yang penuh makna. (FOTO : apaimages via Reuters)

Marah Al-Za anin berdiri di dalam tendanya menyalakan lilin karena pemadaman listrik di Jalur Gaza utara. Marah mengubah tendanya menjadi tempat pameran untuk memajang karya seninya setelah rumahnya hancur selama perang Israel di Gaza. (FOTO : EPA/HAITHAM IMAD)

Marah telah menyukai dunia seni lukis sejak kecil, jauh sebelum perang mengubah hidupnya. Ketika perang berkecamuk dan memaksanya mengungsi, ia tidak meninggalkan hasrat seninya. Justru sebaliknya, melukis menjadi ruang perlindungan pribadi bagi Marah menghadapi trauma dan mempertahankan jati dirinya di tengah kenyataan hidup yang keras. (FOTO : Saeed Jaras/Sipa USA via Reuters)

Marah tinggal di sebuah sekolah yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan pengungsi. Ruang sempit, kebisingan, dan ketiadaan privasi membuat aktivitas melukis hampir mustahil dilakukan di siang hari. (FOTO : EPA/HAITHAM IMAD)

Saat malam tiba, ketika sebagian besar pengungsi terlelap, Marah menciptakan dunianya sendiri. Di bawah cahaya redup yang terkadang hanya mengandalkan senter ponsel milik kakaknya, remaja 18 tahun itu mulai melukis. Goresan kuasnya menghadirkan keindahan di tengah kehancuran. Setiap lukisannya menjadi cara untuk menjaga suara artistiknya tetap hidup, sekaligus bertahan dari tekanan psikologis akibat perang. (FOTO : Saeed Jaras/Sipa USA via Reuters)

Marah Khaled Al-Za anin melukis salah satu karya seninya di dalam tendanya di tempat penampungan Sekolah Al-Rimal, Jalur Gaza. (FOTO : EPA/HAITHAM IMAD)

Jalan Marah menekuni dunia seni tidak mudah. Perlengkapan melukis menjadi tantangan terberat. Kertas, pensil, dan cat sulit diperoleh, ketika tersedia pun jarang sesuai dengan ukuran atau kualitas yang dibutuhkannya. (FOTO : EPA/HAITHAM IMAD)

Keterbatasan tidak menghentikan semangat Marah untuk terus berkarya. Bagi Marah, melukis bukan sekadar hobi, melainkan bentuk perlawanan sunyi seorang remaja Gaza mempertahankan kemanusiaannya di tengah realitas yang terus menguji daya tahan hidup. (FOTO : EPA/HAITHAM IMAD)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Perempuan muda Palestina, Marah Khaled Al-Za’anin (18) mengubah tenda pengungsiannya di lingkungan Al Rimal, Kota Gaza, menjadi ruang seni sederhana. Di dalam tenda pengungsiannya, terpampang karya-karya lukis yang penuh makna.

Marah telah menyukai dunia seni lukis sejak kecil, jauh sebelum perang mengubah hidupnya. Ketika perang berkecamuk dan memaksanya mengungsi, ia tidak meninggalkan hasrat seninya. Justru sebaliknya, melukis menjadi ruang perlindungan pribadi bagi Marah menghadapi trauma dan mempertahankan jati dirinya di tengah kenyataan hidup yang keras.

Marah tinggal di sebuah sekolah yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan pengungsi. Ruang sempit, kebisingan, dan ketiadaan privasi membuat aktivitas melukis hampir mustahil dilakukan di siang hari.

Saat malam tiba, ketika sebagian besar pengungsi terlelap, Marah menciptakan dunianya sendiri. Di bawah cahaya redup yang terkadang hanya mengandalkan senter ponsel milik kakaknya, remaja 18 tahun itu mulai melukis. Goresan pensilnya menghadirkan keindahan di tengah kehancuran. Setiap lukisannya menjadi cara untuk menjaga suara artistiknya tetap hidup, sekaligus bertahan dari tekanan psikologis akibat perang.

Jalan Marah menekuni dunia seni tidak mudah. Perlengkapan melukis menjadi tantangan terberat. Kertas, pensil, dan cat sulit diperoleh, ketika tersedia pun jarang sesuai dengan ukuran atau kualitas yang dibutuhkannya.

Meski begitu, keterbatasan tidak menghentikan semangat Marah untuk terus berkarya. Bagi Marah, melukis bukan sekadar hobi, melainkan bentuk perlawanan sunyi seorang remaja Gaza mempertahankan kemanusiaannya di tengah realitas yang terus menguji daya tahan hidup.

sumber : EPA

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |