Dari Angola sampai Rusia, Ini Sumber Baru Impor Minyak Mentah Indonesia

5 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah mengalihkan sumber pasokan impor minyak mentah (crude) Indonesia. Selama ini, impor banyak berasal dari kawasan Timur Tengah, namun kini pemerintah mulai mencari alternatif dari Afrika, Amerika Serikat, hingga Rusia.

Langkah tersebut ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur rawan geopolitik, terutama Selat Hormuz. Perubahan strategi ini dilakukan seiring meningkatnya ketegangan global, mulai dari perang dagang hingga konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu distribusi energi.

“Begitu terjadi perang saya merubah pola. Ilmu pengusaha saya keluar, kalau di sini tidak bisa ya kita cari di tempat lain,” kata Bahlil di Jakarta, dikutip Ahad (3/5/2026).

Ia menerangkan, selama ini impor crude Indonesia masih bergantung pada kawasan Timur Tengah dengan porsi sekitar 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan nasional. Ketergantungan tersebut dinilai berisiko ketika terjadi eskalasi konflik yang berdampak pada distribusi energi global.

Pemerintah kemudian membuka komunikasi dengan sejumlah negara produsen baru. Negara yang dijajaki, jelas Bahlil, antara lain di Afrika seperti Angola dan Nigeria, serta Amerika Serikat dan Rusia sebagai alternatif pasokan.

“Saya kontak Afrika, Angola, Nigeria, Amerika Serikat, dan beberapa negara lain. Terakhir, kemarin kita ambil dari Rusia,” ujarnya.

Bahlil menegaskan diversifikasi sumber impor ini bukan sekadar strategi dagang, melainkan bagian dari upaya menjaga pasokan energi bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia. Pemerintah bahkan melakukan pendekatan langsung ke negara-negara pemasok untuk memastikan ketersediaan crude.

“Jadi kalau saya, kalau Bapak Presiden saya temani, Bapak Presiden berangkat untuk cari minyak itu bukan jalan-jalan, kita jalan kerja memikirkan 280 juta jiwa yang ada di bangsa ini,” ucapnya.

Menurut dia, perubahan pola impor ini juga berdampak pada penguatan stok energi nasional. Pemerintah telah mengamankan pasokan crude untuk kebutuhan jangka pendek hingga menengah, termasuk melalui kerja sama dengan Rusia.

“Di Rusia kita sudah dapat, satu tahun ini clear. Jadi untuk stok crude kita satu tahun ke depan insya Allah sudah selesai,” kata Bahlil.

Di sisi lain, ia mengingatkan kondisi energi nasional masih menghadapi tantangan struktural. Konsumsi minyak mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan lifting domestik berada di kisaran 605 ribu barel per hari. Kesenjangan tersebut membuat Indonesia masih membutuhkan impor sekitar 1 juta barel per hari.

Pemerintah menempuh sejumlah langkah untuk memperbaiki kondisi tersebut, mulai dari intervensi teknologi pada sumur tua, percepatan pengembangan wilayah kerja migas, hingga pembukaan blok eksplorasi baru. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan produksi dalam negeri sekaligus menekan ketergantungan impor.

Diversifikasi sumber impor crude menjadi bagian dari strategi jangka pendek untuk menjaga stabilitas pasokan. Dalam jangka panjang, pemerintah mendorong kemandirian energi melalui peningkatan produksi domestik dan pengembangan energi alternatif.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |