Ngaji Alquran.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kalanya seseorang tidak lagi takut kepada masa depan, tetapi justru takut kepada masa lalunya sendiri. Dosa-dosa yang pernah dilakukan terasa begitu besar hingga ia mengira pintu kembali telah tertutup rapat.
Setiap kali ingin berubah, bisikan putus asa datang lebih dahulu: "Apakah Allah masih mau menerimaku?" Pada saat seperti itulah Surah Az-Zumar ayat 53 turun sebagai salah satu ayat paling menenteramkan dalam Alquran. Ayat ini bukan sekadar ajakan untuk bertobat, melainkan pelukan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba yang merasa telah terlalu jauh tersesat.
Allah SWT berfirman:
قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
qul yā ‘ibādiyallażīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunūba jamī‘ā, innahū huwal-gafūrur-raḥīm.
Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan turunnya ayat ini. Di antaranya adalah riwayat dari Abdullah bin Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sejumlah kaum musyrik Makkah yang telah melakukan banyak dosa besar, termasuk pembunuhan dan perzinaan. Mereka berkata kepada Rasulullah SAW bahwa ajaran yang beliau bawa memang baik, tetapi mereka merasa dosa-dosa mereka terlalu besar sehingga tidak mungkin diampuni. Lalu Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban bahwa pintu rahmat-Nya tetap terbuka bagi siapa saja yang bertobat dengan sungguh-sungguh.
Ibnu Katsir juga mengutip riwayat dari Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menunjukkan bahwa ayat ini merupakan kabar gembira bagi setiap orang yang ingin kembali kepada Allah. Namun para ulama menegaskan bahwa ayat ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk terus berbuat maksiat. Janji ampunan Allah diberikan kepada mereka yang benar-benar kembali kepada-Nya dengan taubat yang tulus.
Mengandung Harapan
Ibnu Katsir menyebut ayat ini sebagai salah satu ayat yang paling luas mengandung harapan dalam Alquran. Perhatikan bagaimana Allah memanggil manusia dalam ayat ini. Allah tidak berkata, "Wahai orang-orang yang berdosa." Allah justru berfirman, "Wahai hamba-hamba-Ku." Bahkan ketika seorang hamba telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri, Allah masih menyandarkan dirinya kepada-Nya dengan sebutan "hamba-Ku". Panggilan itu menunjukkan bahwa hubungan antara Rabb dan hamba belum terputus selama pintu taubat masih terbuka.
Kalimat "yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri" juga mengandung makna yang dalam. Dosa pada hakikatnya bukanlah kezaliman kepada Allah, karena Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Justru manusialah yang merugikan dirinya sendiri ketika bermaksiat. Setiap dosa menggoreskan luka pada hati, mengurangi ketenangan jiwa, dan menjauhkan manusia dari cahaya petunjuk.

16 hours ago
11













































