REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Andy Burnham memasuki 10 Downing Street dengan membawa reputasi sebagai pembela Inggris utara, pengelola pemerintahan metropolitan, dan politikus Partai Buruh yang pernah dua kali gagal merebut kepemimpinan partainya. Kini, reputasi yang dibangun selama hampir satu dekade di Greater Manchester itu akan diuji pada skala yang jauh lebih besar.
Burnham resmi menjadi perdana menteri Inggris pada Senin, 20 Juli 2026. Pemerintah Inggris mencatat ia sebelumnya terpilih sebagai pemimpin Partai Buruh pada 16 Juli 2026, setelah kembali menjadi anggota parlemen melalui pemilihan sela Makerfield pada Juni. Ia menggantikan Keir Starmer dan menjadi perdana menteri ketujuh yang memimpin Inggris dalam kurun sekitar satu dekade.
Dalam pidato pertamanya di Downing Street, Burnham menjanjikan perubahan besar dalam model politik dan ekonomi Inggris. Ia berbicara tentang penguatan daerah, reindustrialisasi, pembangunan rumah dewan, pengendalian publik atas layanan penting, serta tindakan cepat menghadapi krisis biaya hidup dan tunawisma.
“Kita harus menjadikan momen ini sebagai pemutus siklus bagi Inggris,” kata Burnham dalam pidato pertamanya sebagai perdana menteri, Senin, 20 Juli 2026. Ia menjanjikan model politik dan ekonomi baru serta perubahan yang disebutnya terbesar dalam empat dekade terakhir, sebagaimana diberitakan sejumlah media Eropa.
Namun, harapan besar itu bertemu dengan batas yang keras. Inggris menghadapi pertumbuhan ekonomi yang lama tertahan, utang publik tinggi, biaya bunga yang menggerus anggaran, jutaan antrean perawatan kesehatan, tekanan biaya hidup, kebutuhan peningkatan anggaran pertahanan, serta ancaman elektoral dari Reform UK.
Burnham juga belum pernah memimpin Partai Buruh dalam pemilihan umum nasional. Keberhasilannya menjadi perdana menteri diperoleh melalui kombinasi kemenangan dalam pemilihan sela, pergantian pemimpin partai yang sedang berkuasa, dan dukungan mayoritas Partai Buruh di House of Commons.
Dari Westminster Menuju Manchester
Burnham lahir di kawasan Liverpool dan tumbuh di antara Liverpool dan Manchester. Ayahnya bekerja sebagai teknisi telepon, sedangkan ibunya menjadi resepsionis. Ia berasal dari keluarga Katolik kelas pekerja dan menjadi bagian dari generasi pertama keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi. Burnham kemudian mengambil studi sastra Inggris di Universitas Cambridge.
Setelah lulus, ia sempat bekerja sebagai jurnalis untuk majalah perdagangan sebelum menjadi peneliti dan penasihat politik Partai Buruh. Karier parlementernya dimulai ketika terpilih sebagai anggota parlemen untuk Leigh pada Juni 2001.
Burnham kemudian menempati sejumlah posisi pemerintahan. Ia menjadi menteri negara di Departemen Kesehatan pada Mei 2006 hingga Juni 2007, sekretaris utama Departemen Keuangan pada Juni 2007 hingga Januari 2008, menteri kebudayaan, media, dan olahraga pada Januari 2008 hingga Juni 2009, serta menteri kesehatan pada Juni 2009 hingga Mei 2010.
Pengalaman itu membuat Burnham tidak sepenuhnya asing terhadap persoalan fiskal ataupun kesehatan. Akan tetapi, masa jabatannya pada masing-masing posisi relatif singkat. Ia juga telah meninggalkan pemerintahan pusat selama hampir satu dekade ketika kembali ke parlemen pada 2026.
Setelah Partai Buruh kalah dalam pemilu 2010, Burnham dua kali mencalonkan diri sebagai pemimpin partai, masing-masing pada 2010 dan 2015. Keduanya berakhir dengan kekalahan. Ia kemudian meninggalkan parlemen pada 2017 untuk mengikuti pemilihan wali kota Greater Manchester.
Keputusan tersebut sempat terlihat seperti langkah menjauh dari pusat kekuasaan. Justru dari Manchester, Burnham membangun kembali identitas politiknya dan memperoleh basis yang kelak mengantarkannya ke Downing Street.
Hillsborough dan Politik Keadilan
Salah satu pengalaman paling menentukan dalam karier Burnham berkaitan dengan tragedi Hillsborough pada 1989, yang menewaskan 97 pendukung Liverpool.
Ketika menghadiri peringatan tragedi itu pada 2009, Burnham mendapat tekanan langsung dari keluarga korban yang selama bertahun-tahun berjuang melawan narasi keliru bahwa perilaku pendukung sepak bola menjadi penyebab utama musibah.
Burnham kemudian mendukung pembukaan dokumen pemerintah, penyelidikan baru, permintaan maaf resmi, dan upaya menghadirkan kewajiban keterbukaan bagi pejabat publik ketika suatu tragedi diselidiki. AP menggambarkan perkara Hillsborough sebagai pengalaman yang turut membentuk citra Burnham sebagai politikus yang berpihak kepada keluarga korban ketika berhadapan dengan institusi negara.
Rekam jejak tersebut penting bagi citra politiknya. Burnham tidak hanya dikenal melalui jabatan yang pernah dipegang, tetapi juga melalui kemampuannya menjadikan penderitaan kelompok tertentu sebagai isu nasional.
Akan tetapi, sebagai perdana menteri, keberpihakan moral saja tidak cukup. Ia kini harus menunjukkan bahwa empati politik dapat diterjemahkan menjadi keputusan anggaran, peraturan, dan layanan publik yang terukur.
sumber : Xinhua

15 hours ago
10

















































