Syekh Yusuf, Aktivisme-Spiritualisme, dan Tantangan Zaman

23 hours ago 14

Oleh: Arief Rosyid Hasan, Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf /Ketua Umum PB HMI 2013–2015

REPUBLIKA.CO.ID, Persinggungan saya dengan Syekh Yusuf Al Makassari bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, sejak saya lahir dan besar di Gowa—tanah yang tidak hanya melahirkan seorang tokoh besar, tetapi juga menyimpan jejak panjang peradaban. Sejak kecil, dalam masa-masa sekolah, nama Syekh Yusuf hidup dalam cerita-cerita yang kami dengar, dalam narasi kebanggaan lokal yang perlahan membentuk kesadaran.

Sesekali, ketika pelajaran sejarah tiba, kami diajak berziarah ke makamnya di perbatasan Gowa–Makassar. Di sana, saya belum sepenuhnya memahami sosok ini. Namun kesan tentang kebesaran itu tertanam. Ia bukan tokoh biasa.

Pemahaman itu menemukan momentumnya bertahun-tahun kemudian. Pada 2018, saya mendapat kesempatan langka ikut dalam rombongan kenegaraan yang dipimpin oleh wakil presiden saat itu, Jusuf Kalla, bersama almarhum Pak Syaf selaku Wakil Ketua Umum DMI, untuk berziarah ke makam Syekh Yusuf yang lain di Cape Town, Afrika Selatan. Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa jejak Syekh Yusuf bukan hanya melintasi pulau, tetapi melintasi benua.

Di Cape Town, saya melihat langsung bagaimana seorang tokoh dari Nusantara bisa menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat di negeri yang jauh. Nama “Macassar” hidup di sana—dalam komunitas, tradisi, bahkan ruang sosial mereka. Di situlah saya memahami: Syekh Yusuf bukan sekadar ulama, ia adalah simbol peradaban dunia.

Lebih jauh, sebagaimana ditulis oleh Zacky Khairul Umam, Syekh Yusuf dapat dipahami sebagai prototipe hubungan Asia–Afrika, yang menghubungkan dunia Selatan (Global South) jauh sebelum Konferensi Bandung 1955. Ia menjadi teladan bagaimana jaringan intelektual, spiritual, dan perjuangan mampu melampaui batas geografis dan membangun kesadaran lintas bangsa.

Kesadaran global tentang Syekh Yusuf justru banyak tumbuh dari luar Indonesia. Pada tahun 1994, Nelson Mandela dalam sebuah peringatan komunitas Muslim Cape menyampaikan bahwa dari Syekh Yusuf ia belajar bukan hanya tentang Islam, tetapi juga tentang perjuangan melawan apartheid—bahwa tidak ada perbedaan antara kulit hitam dan putih, antara budak dan orang merdeka. Dari perspektif itu, Syekh Yusuf menjadi simbol kebebasan dan kesetaraan bagi mereka yang tertindas.

Kesadaran ini semakin menguat ketika pada akhir tahun 2023 saya berkeliling beberapa daerah untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan. Di Sulawesi Selatan, saya secara khusus menyoroti peran Syekh Yusuf sebagai pijakan untuk menapaki masa depan Indonesia 2045. Saya meyakini, tanpa fondasi pengetahuan sejarah yang kokoh, mustahil kita bisa mengembara jauh sebagai bangsa dan membangun peradaban yang lebih baik.

Perjalanan intelektual ini tidak berhenti di sana. Pada 13–16 September 2024, bersama Oman Fathurrahman, Guru Besar Filologi yang selama ini meneliti manuskrip-manuskrip klasik, kami melakukan rihlah budaya di Sulawesi Selatan. Di penghujung perjalanan, kami menggelar Dialog Budaya bertajuk “Telusur Manuskrip di Sulsel, Cahaya Nabi dalam Naskah Sulawesi.” Dari sana, saya semakin memahami bahwa kekuatan Syekh Yusuf bukan hanya pada aksinya, tetapi pada kedalaman pemikirannya yang tertuang dalam manuskrip-manuskrip yang belum sepenuhnya digali.

Diskursus ini terus berkembang. Pada 28 September 2025, dalam Tasyakuran Milad ke-38 tahun bertema “Regenerasi dan Keberlanjutan, Komitmen Keislaman-Keindonesiaan,” Prof. Oman kembali kami undang. Dari forum itu, gagasan tentang Syekh Yusuf sebagai tokoh besar yang perlu dihidupkan kembali semakin menemukan bentuknya.

Puncaknya, pada Halal Bihalal Angkatan Muda Syekh Yusuf yang diselenggarakan oleh Ikatan Kerukunan Keluarga Gowa (IKKG) pada 26 April 2025, disampaikan satu pesan penting: perlunya melembagakan gerakan orang-orang muda agar mereka tidak tercerabut dari akar sejarah dan kebudayaannya. Dari titik itu, lahirlah kesadaran bahwa kerja kebudayaan tidak bisa bersifat sporadis—ia harus terorganisir, berkelanjutan, dan berorientasi jangka panjang. Ketum IKKG, Prof. Awaluddin Tjalla lalu menyetujui pembentukan Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) sebagai sayap organisasi.

Maka pada 13 Juli 2025, di Pendopo Gubernur Banten, dilakukan pengukuhan AMSY oleh Gubernur Andra Soni, didoakan Puang Makka yang datang langsung dari Makassar, hadir pula Tokoh Banten KH. Embay Mulya Syarief. Banten dipilih bukan tanpa alasan. Syekh Yusuf adalah tokoh yang melampaui sekat geografis. Dari Gowa ke Banten, dari Nusantara ke Sri Lanka hingga Afrika Selatan, ia selalu hadir membawa maslahat. Ia adalah bukti bahwa nilai yang kuat tidak mengenal batas wilayah.

Memasuki tahun 2026, momentum ini mencapai puncaknya. Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf ditetapkan sebagai agenda perayaan internasional dalam Sidang Umum UNESCO. Ini bukan sekadar pengakuan simbolik, tetapi penegasan bahwa Syekh Yusuf adalah bagian dari warisan dunia—tokoh yang pemikiran dan perjuangannya relevan lintas bangsa dan lintas zaman.

Momentum ini tentu tidak hadir begitu saja. Perlu diapresiasi kerja besar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, khususnya melalui Kementerian Kebudayaan yang dipimpin oleh Fadli Zon. Penetapan ini menunjukkan keseriusan negara dalam mengangkat tokoh-tokoh peradaban Indonesia ke panggung global.

Lebih dari itu, ini menjadi contoh penting bahwa ketika amanah publik diberikan kepada figur dengan jam terbang tinggi, kapasitas intelektual, dan jejaring global yang kuat, maka kebijakan yang dihasilkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga strategis dan berdampak luas. Kebudayaan tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai instrumen utama dalam membangun identitas bangsa sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi dunia.

Dari seluruh perjalanan ini, saya semakin yakin apa yang disampaikan Prof. Oman, bahwa Syekh Yusuf menghadirkan satu konsep besar yang sangat relevan dengan tantangan zaman hari ini: aktivisme-spiritualisme. Ia adalah sosok yang mampu memadukan iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan yang utuh—di mana iman menjadi fondasi, ilmu menjadi cahaya, dan amal menjadi bukti nyata dalam kehidupan sosial. Inilah bentuk kepemimpinan yang tidak hanya berpikir, tetapi juga bergerak; tidak hanya berzikir, tetapi juga berikhtiar menghadirkan keadilan.

Syekh Yusuf menawarkan jalan tengah yang kokoh:

“Ilmu adalah cahaya, dan amal adalah buktinya.”

Di tengah dunia hari ini, kita sering melihat dua ekstrem: aktivisme tanpa nilai, atau spiritualitas tanpa kontribusi. Aktivisme sering kehilangan arah karena tidak berakar pada nilai, sementara spiritualitas kerap berhenti pada ritual tanpa dampak sosial. Syekh Yusuf menghadirkan sintesis—iman, ilmu, dan amal yang padu dalam pengabdian.

Pertanyaannya, apakah kita hari ini mampu meneladani itu?

Bagi saya, memperingati Syekh Yusuf bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah upaya menyiapkan masa depan. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengagum sejarah. Kita harus menjadi pelanjut nilai. Karena itu, ada pekerjaan besar yang harus terus kita lakukan ke depan: menyusun dan menerbitkan karya-karya Syekh Yusuf secara lebih sistematis, menghadirkan film dan karya visual yang menjangkau generasi muda, serta memanfaatkan media sosial sebagai ruang diseminasi gagasan.

Ini penting untuk memperkuat pelestarian, pengkajian, dan penyebarluasan warisan intelektual Nusantara—sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap pemikiran besar Syekh Yusuf bagi masyarakat nasional dan internasional. Pada akhirnya, Syekh Yusuf bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah cermin bagi masa kini, sekaligus kompas untuk masa depan. Sejarah tidak hanya membutuhkan lebih banyak pengagum, juga sejarah membutuhkan mereka yang berani melanjutkannya. Semoga!

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |