Luka di Tubuh Bayi Korban Kekerasan Daycare Yogya, Kulit Melepuh Hingga Kena Paru-Paru Basah

11 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Kondisi bayi dan balita korban kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha terungkap. Usai penggerebekan, para orang tua sempat melihat foto yang ditunjukkan polisi. Foto itu membuktikan adanya kekerasan di daycare tersebut.

Selain mengalami luka fisik dengan pola seragam, mayoritas anak dilaporkan menderita pneumonia atau paru-paru basah, yang mengindikasikan adanya persoalan serius dalam pola pengasuhan dan sanitasi di tempat tersebut. Dugaan kekerasan ini terendus setelah sejumlah orang tua juga menemukan kemiripan luka pada tubuh anak-anak mereka. Luka yang ditemukan beragam, mulai dari kulit melepuh, bekas cubitan, cakaran, hingga luka di area punggung dan bibir.

Salah satu orang tua korban, Noorman  Windarto, yang telah menitipkan dua anaknya sejak 2022, mengungkapkan adanya kejanggalan pada luka-luka tersebut. "Anak saya juga pernah mengalami luka tersebut. Dan luka tersebut ternyata sama dengan luka anak orang tua lain yang anaknya dititipkan di sana, jadi kita tahu bahwa ternyata lukanya sama," ungkap Noorman belum lama ini.

Noorman juga membeberkan upaya manipulasi yang dilakukan pihak pengelola Daycare Little Aresa. Dia kerap dituduh bahwa luka tersebut sudah ada sejak dari rumah.

"Kalau yang (luka) punggung sama bibir itu, saya sangat konsen, saya kadang-kadang mandiin, wong punggung itu enggak ada (luka) sama sekali. Kalau luka goresan dan lain-lain, pas di daycare itu langsung kaya difoto sama ya, kata sekolah, 'Ini, adik sudah luka dari rumah, lho'. Itu mulai janggal," katanya menirukan dalih pihak daycare.

Selain luka fisik, ancaman kesehatan serius juga menghantui para korban. Mayoritas anak juga dilaporkan mengalami pneumonia pada paru-paru yang menyebabkan alveoli terisi cairan atau nanah. Kondisi ini memicu gejala seperti batuk berdahak, demam, menggigil, hingga sesak napas.

Noorman mengatakan anaknya telah didiagnosa pneumonia sejak usia 3 bulan. Ia mengaku tidak menyangka lingkungan daycare menjadi faktor pemicu kondisi tersebut.

"Kita nggak nyangka kondisi di sana (pola asuh daycare yang jadi penyebabnya -Red)," kata Noorman.

Dugaan sementara, penyebaran penyakit ini berkaitan dengan kondisi sanitasi atau pola asuh yang tidak higienis di daycare tersebut. Kesaksian salah satu orang tua, Choirunisa (34 tahun) turut memperkuat kondisi tersebut. Anaknya yang baru berusia 1,5 tahun mengalami luka melepuh di kedua tangan yang sempat diklaim sebagai cacar air oleh pihak daycare, namun juga menunjukkan gejala gangguan pernapasan dan penurunan berat badan drastis.

"Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk, biasanya nggak pernah batuk. Batuknya sampai muntah-muntah terus. Berat badannya juga dari hampir sembilan, jadi turun sampai delapan," kata Choirunisa.

Daycare Jauh Dari Kata Layak

Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, menyebut kondisi penampungan di Little Aresha sangat tidak layak. Terdapat tiga kamar berukuran sekitar 3x3 meter persegi, namun masing-masing kamar dipaksakan untuk diisi oleh 20 anak.

"Jadi ada tiga kamar ukuran sekitar 3x3 meter persegi, tetapi diisi 20 anak untuk satu kamar. Ini sudah mengarah pada tindakan diskriminatif. Anak-anak ditelantarkan begitu saja, ada yang diikat kakinya, tangannya, bahkan ada yang muntah namun dibiarkan tanpa ada upaya pembersihan," ujarnya, Ahad (26/4/2026), lalu.

Adrian mengungkapkan bahwa rentang usia korban sangat rentan, mulai dari bayi berusia 0 hingga 3 bulan sampai balita di bawah usia 2 tahun. Berdasarkan masa kerja pengasuh yang lebih dari satu tahun, tindakan kekerasan ini diduga telah berlangsung lama. Polisi kini tengah melakukan pemeriksaan maraton terhadap para terlapor.

"Petugas kita memang melihat langsung bahwa anak tersebut diperlakukan tidak manusiawi. Ada yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya," ujar Adrian.

Temuan medis juga menunjukkan pola luka meliputi kulit melepuh, bekas cubitan, cakaran, luka pada punggung, hingga luka di bagian bibir. Mayoritas anak juga terkonfirmasi menderita pneumonia atau infeksi paru-paru. 

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |