Rupiah Sentuh Rp17 Ribu, IHSG Anjlok, Purbaya: Ekonomi Masih Ekspansi

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus kisaran Rp 17.000 pada perdagangan Senin (9/3/2026). Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah tajam di tengah lonjakan harga minyak dunia yang melampaui 100 dolar AS per barel.

Gejolak di pasar keuangan ini memicu kekhawatiran akan kondisi ekonomi nasional. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ekonomi domestik masih kuat dan belum menunjukkan tanda perlambatan.

“Ekonomi sedang ekspansi. Resesi saja belum, melambat pun belum,” kata Purbaya saat ditemui di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Menurut dia, pelemahan rupiah dan tekanan di pasar saham lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar, termasuk kekhawatiran atas konflik geopolitik global dan kenaikan harga energi.

Purbaya mengatakan pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia karena lonjakan harga energi berpotensi memengaruhi kondisi fiskal, terutama terkait subsidi energi. Namun, ia menegaskan pemerintah belum akan mengambil keputusan terburu-buru.

“Kita lihat dulu sebulan ini seperti apa keadaannya. Nanti kita evaluasi secara menyeluruh,” ujarnya.

Ia menjelaskan perhitungan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menggunakan rata-rata harga minyak dalam satu tahun. Karena itu, lonjakan harga dalam waktu singkat belum otomatis memengaruhi kebijakan fiskal.

“Kalau sekarang 100 dolar AS, belum tentu setahun rata-ratanya 100 dolar AS. Bisa saja nanti turun lagi,” kata dia.

Purbaya juga memastikan pemerintah belum memiliki rencana untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Menurut dia, ruang fiskal masih cukup untuk menahan dampak lonjakan harga minyak dalam jangka pendek.

“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM atau menaikkan harga BBM,” ujarnya.

Ia meminta pelaku pasar dan masyarakat tidak terlalu cepat menyimpulkan kondisi ekonomi sedang menuju krisis. Pemerintah, kata dia, memiliki pengalaman menghadapi berbagai gejolak ekonomi global.

“Teman-teman tidak usah takut. Kita sudah punya pengalaman menghadapi berbagai krisis dan tahu bagaimana menjaganya,” kata Purbaya.

Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dan IHSG tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Menurut dia, konflik di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia karena terganggunya pasokan energi global.

“Ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak melonjak, bahkan saat ini sudah di kisaran 117 dolar AS per barel,” ujar Ibrahim.

Lonjakan harga minyak tersebut, kata dia, dapat berdampak terhadap kondisi fiskal dalam negeri jika berlangsung dalam waktu lama.

Meski demikian, pemerintah menilai kondisi ekonomi domestik masih terjaga. Aktivitas konsumsi masyarakat juga dinilai tetap berjalan.

Purbaya bahkan mengaku sempat memantau langsung aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang untuk melihat kondisi daya beli masyarakat.

“Katanya daya beli hancur, pasar sepi. Ternyata orang masih belanja dan pasar masih ramai,” ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak pasar global.

“Pondasi ekonomi kita jaga betul,” kata Purbaya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |