Proyek Peternakan Ayam Terintegrasi Rp1,2 Triliun Dibangun di Sumbawa

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (ID Food) menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) pengembangan industri ayam terintegrasi senilai Rp 1,2 triliun di Kabupaten Sumbawa, NTB, dalam rangka memperkuat hilirisasi sektor peternakan dan kemandirian pangan daerah. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan proyek industri ayam terintegrasi bukan sekadar investasi sektor peternakan, tetapi merupakan strategi besar untuk meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat sekaligus memperkuat kemandirian pangan daerah.

“Bagi NTB, ini bukan hanya proyek investasi biasa. Ini adalah langkah strategis untuk membangun ekosistem peternakan yang lebih adil dan memberdayakan peternak rakyat,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama Direktur Utama ID Food Ghimoyo, disaksikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI Agung Suganda di Gedung PT Rajawali Nusantara Indonesia, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Menurut Gubernur NTB, selama ini dua sektor strategis dalam industri perunggasan, yakni bibit ayam (day old chick/DOC) dan pakan, masih didominasi pelaku usaha besar. Akibatnya, banyak peternak rakyat berada dalam pola kemitraan yang membuat mereka tetap bertahan hidup, namun sulit berkembang.

“Dengan hadirnya industri ayam terintegrasi di NTB, pemerintah berharap tercipta struktur usaha yang lebih sehat dan memberikan ruang lebih besar bagi peternak lokal berkembang secara mandiri,” kata Iqbal.

Gubernur juga menyoroti kebutuhan produk peternakan di NTB, terutama telur dan daging ayam, yang masih mengalami defisit sehingga sebagian pasokan masih bergantung dari luar daerah.

Selain itu, meningkatnya kebutuhan pangan dari program nasional MBG juga diperkirakan meningkatkan permintaan terhadap produk peternakan secara signifikan di masa mendatang.

“Saat ini jumlah penerima manfaat program tersebut di NTB telah mendekati seribu satuan layanan pemenuhan gizi (SPPG). Artinya kebutuhan pasokan pangan, termasuk produk peternakan, akan terus meningkat,” terangnya.

Karena itu, menurut Iqbal, pembangunan industri ayam terintegrasi menjadi sangat penting untuk memastikan ketahanan pasokan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat NTB.

Ia juga menegaskan siap memberikan dukungan penuh agar proyek ini dapat berjalan dengan baik, terutama dalam hal konektivitas logistik, dukungan infrastruktur, serta penguatan ekosistem usaha peternakan daerah.

“Insya Allah, apa yang menjadi tanggung jawab kami di daerah akan kami selesaikan secepat mungkin agar proyek ini dapat segera berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

MoU ini juga merupakan tindak lanjut dari proses groundbreaking megaproyek hilirisasi ayam terintegrasi senilai Rp 1,2 triliun yang telah dimulai di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa.

Proyek tersebut dirancang untuk membangun sistem industri perunggasan modern yang terintegrasi mulai dari penyediaan bibit unggul, pakan, produksi, hingga pengolahan dan distribusi produk peternakan.

Direktur Utama ID Food Ghimoyo mengatakan sebagai holding BUMN pangan, pihaknya memiliki kapasitas kuat dalam mendukung pengembangan sektor peternakan nasional melalui jaringan logistik, distribusi, dan pengolahan produk pangan.

Saat ini, ID Food memiliki jaringan distribusi yang luas dengan 74 cabang distribusi, 24 fasilitas cold storage, 1.051 dry storage, serta lebih dari 900 armada logistik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui kerja sama ini, ID Food akan membangun ekosistem peternakan terintegrasi di NTB melalui berbagai tahapan rantai nilai produksi.

Pada tahap hulu, perusahaan akan mendukung penyediaan kebutuhan dasar peternakan seperti bibit unggul, pakan, obat, dan vaksin.

Pada tahap produksi, peternak rakyat akan didorong mengembangkan usaha melalui skema contract farming dan perjanjian offtake sehingga hasil produksi memiliki kepastian pasar.

Selain itu, peternak juga akan mendapatkan pelatihan, asistensi teknis, serta akses pembiayaan melalui berbagai skema pendanaan seperti kredit investasi, kredit modal kerja, hingga kredit usaha rakyat (KUR).

“Sementara pada tahap hilir, ID Food akan memperkuat pengolahan hasil peternakan melalui fasilitas rumah potong unggas, pengolahan karkas, hingga pengemasan produk yang kemudian akan dipasarkan melalui jaringan distribusi nasional,” katanya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |