Pekan Depan, Harga Emas Diprediksi Rp 2,57—Rp 2,8 Juta per Gram

11 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Harga emas atau logam mulia masih terus berfluktuasi di bawah level Rp 3 juta per gram, selama lebih dari tiga bulan terakhir. Pada pekan depan, harga komoditas safe haven tersebut diperkirakan bergerak di kisaran Rp 2,57—Rp 2,8 juta per gram. Sementara itu, harga minyak dunia diprediksi berada di sekitar 62,30—82,20 dolar AS per barel, seiring dengan eskalasi konflik geopolitik. 

Harga emas dunia pada akhir pekan ini tercatat ditutup di level 4.119 dolar AS per troy ons. Adapun harga logam mulia berada di posisi Rp 2,65 juta per gram.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, pada pekan depan, jika harga emas mengalami koreksi, level support pertama yakni sebesar 4.023 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia sebesar Rp 2,64 juta per gram. Apabila melanjutkan koreksi, level support kedua harga emas yakni 3.906 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia sebesar Rp 2,57 juta per gram. 

Sementara itu, jika harga emas mengalami kenaikan, level resisten pertama diprediksi di level 4.214 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia sebesar Rp 2,68 juta per gram. Apabila melanjutkan penguatan, harga emas dunia diprediksi mencapai 4.348 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia di level Rp 2,8 juta per gram. 

“Jadi, dalam sepekan, emas dunia kemungkinan ditransaksikan di support-nya 3.906 dolar AS per troy ons, dan resisten tertingginya di 4.348 dolar AS per troy ons. Untuk logam mulianya sendiri, kemungkinan ditransaksikan di support Rp 2,57 juta per gram, kemudian resistennya di Rp 2,8 juta per gram,” terangnya. 

Seiring dengan prediksi pergerakan harga emas, harga komoditas minyak dunia, untuk WTI crude oil, dalam sepekan ke depan kemungkinan diperdagangan di kisaran 62,30—82,20 dolar AS per barel. “Ada kemungkinan besar (harga minyak) turun, tetapi akan menguat tajam,” ungkapnya. 

Sementara itu, indeks dolar AS dalam sepekan ke depan kemungkinan akan mengalami penguatan. Ibrahim memprediksi indeks dolar AS akan diperdagangkan di kisaran 99,90—102,30. 

Untuk rupiah sendiri, Ibrahim memproyeksikan Mata Uang Garuda bergerak di kisaran Rp 17.870—Rp 18.300-an per dolar AS pada pekan depan. Pelemahan rupiah, kata dia, nantinya akan memengaruhi penguatan harga emas atau logam mulia. 

Empat Faktor Utama 

Ibrahim mengungkapkan ada empat faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga beberapa komoditas tersebut, baik emas, minyak mentah, indeks dolar AS, maupun rupiah. 

“Ada beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi, yang pertama adalah faktor geopolitik, kedua faktor perpolitikan di AS, ketiga adalah kebijakan Bank Sentral AS, kemudian yang terakhir adalah supply and demand,” ujarnya. 

Mengenai permasalahan geopolitik, terutama konflik yang terjadi di Timur Tengah antara AS vs Iran. AS diketahui melakukan penyerangan terhadap target-target di Iran pada saat libur nasional pemakaman pemimpin Iran, Ayatullah Khomeini. Lalu, Iran melakukan serangan balik. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz tanpa batas waktu yang ditentukan. 

“Secara resmi di hari Minggu ini Selat Hormuz di Timur Tengah ditutup total. Sehingga ini akan berpengaruh terhadap transportasi minyak pada hari Senin,” ujarnya. 

Selain konflik di Timur Tengah, eskalasi konflik di Eropa Timur antara Rusia vs Ukraina juga masih bergulir. Kedua negara tersebut saling menyerang secara sporadic. Ukraina dikabarkan terus melakukan penyeranga terhadap instalasi minyak di Rusia, sehingga membuat produksi minyak di Rusia mengalami penurunan. Dampaknya, kata Ibrahim, akan memberi penguatan terhadap harga minyak mentah. 

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |