Panen Ketiga Biopori Jumbo, Warga Mangkuyudan Berhasil Tekan Sampah Organik

1 week ago 34

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Warga Kampung Mangkuyudan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta kembali memanen BIMBO atau biopori jumbo yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari, Jumat (23/1/2026). Panen tersebut merupakan panen ketiga sejak kehadiran biopori jumbo di Kampung Mangkuyudan pada akhir 2021, silam.

Dari hasil panen, biasanya bisa menghasilkan sekitar 500-600 kilogram pupuk kompos organik yang berasal dari pengolahan sampah rumah tangga dalam kurun waktu enam hingga delapan bulan. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis BIMBO. Ia menyebut media biopori sangat efektif dalam mengurangi timbunan sampah organik, terutama di wilayah perkotaan dengan keterbatasan lahan.

"Karena kita tidak punya space yang cukup, maka solusinya memperbanyak biopori seperti ini. Sekarang di sini ada enam biopori dan ternyata cukup untuk satu RW. Hari ini kita bantu panen, kemudian juga kita bantu obat untuk supaya kompostingnya cepat. Setelah itu hasil panennya bisa dipakai ya. Bisa dipakai atau silahkan kalau mau dijual juga bisa," kata Hasto seusai meninjau panen biopori jumbo di Kampung Mangkuyudan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Jumat.

Menurutnya, satu unit biopori jumbo mampu menampung hingga dua ton sampah organik. Pemerintah menargetkan 1.000 biopori jumbo yang akan tersebar di seluruh Kota Yogyakarta pada tahun 2026 ini. Saat ini jumlahnya sudah 600, dan akan ditambah 400 biopori jumbo. Hasto menyakini bahwa potensi pengurangan sampah bisa mencapai 2.000 ton melalui 1.000 media biopori tersebut.

Upaya ini sekaligus menjadi salah satu solusi untuk mengurangi sampah organik rumah tangga, terutama saat Kota Yogyakarta kerap menghadapi kondisi darurat sampah karena keterbatasan lahan.

"Satu biopori ini kan bisa dua ton sebetulnya. Jadi kalau misalkan kita punya seribu, sebetulnya seribu biopori jumbo, itu bisa dua ribu ton loh. Bisa menahan sampah dua ribu ton. Itu bisa dibayangkan cukup banyak (sampah organik) yang bisa ditampung, ditekan," ujarnya.

Ketua KWT Subur Makmur Lestari sekaligus pengelola biopori RW 05 Kampung Mangkuyudan, Sumarsini, menyampaikan program biopori jumbo dibangun pada tahun 2020 dan mulai dimanfaatkan aktif pada 2021. Awalnya hanya dua unit biopori, namun saat ini berkembang menjadi enam unit yang digunakan bersama oleh warga.

"Warga sudah terbiasa memilah sampah dari rumah. Sampah organik dibuang ke biopori, sementara anorganik dikelola lewat bank sampah," kata Sumarsini.

Agar hasilnya bagus, Sumarsini mengatakan sampah organik yang masuk ke biopori secara rutin diberi campuran tetes tebu dan EM4 untuk mempercepat proses pembusukan. Dalam waktu enam hingga delapan bulan, sampah yang ditumpuk ke dalam lubang biopori tersebut kemudian dipanen menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk media tanam.

Ia juga menyampaikan kompos hasil biopori yang dipanen juga telah diuji kualitasnya. Hasilnya menunjukkan pH tanah berada di angka netral (7), kandungan bahan organik mencapai 10 persen atau di atas standar minimum, serta unsur hara N dan P tergolong tinggi dan aman digunakan untuk budidaya tanaman.

"Pemanfaatan dari sampah menjadi kompos ini juga kita gunakan untuk budidaya tanaman. Kebetulan di RW 05 ini ada Kelompok Wanita Tani Subur Makmur Lestari yang memanfaatkan kompos tadi sebagai media tanam untuk budidaya tanaman aneka sayuran dan buah juga. Jadi walaupun tidak ada lahan, namun semangat warga dari RW 05 ini tinggi, kami menanam di lorong-lorong yang ada seperti ini. Jadi tanaman itu bisa berhasil juga dan ini merasakan warga itu bisa menikmati makan sayuran yang hasil panen sendiri dan itu sehat," ucapnya.

Senada, Penanggung jawab biopori jumbo Kampung Mangkuyudan, Edi Nugroho, mengatakan sistem ini menjadi solusi pengelolaan sampah tanpa harus bergantung pada depo atau tempat pembuangan akhir. Ia menceritakan di awal sosialisasi terkait biopori, sempat mengalami penolakan. Sebagian warga kala itu belum bersedia mengolah sampah rumah tangga secara mandiri dan masih mengandalkan pembuangan sampah ke depo.

Namun seiring keterbatasan ruang kota dan kondisi darurat sampah yang kerap terjadi belakangan ini, membuka kesadaran warga dan membuat mereka berbondong-bondong beralih pada media biopori.

"(Ini membantu -Red) satu kampung. Waktu dulu kita sosialisasi enggak mau, enggak mau. Begitu Jogja darurat sampah, mau buang di mana? Nah semua buang di sini, tapi dengan catatan plastik enggak boleh masuk, terus kertas-kertas itu enggak boleh masuk. Yang boleh hanya sampah organik. Sisa makanan boleh, sisa dapur boleh, sisa sayuran boleh. Terus kita nebang pohon, daunnya yang dimasukkan, tapi batangnya enggak boleh," ungkapnya.

Edi mengungkapkan saat ini, biopori jumbo di Kampung Mangkuyudan telah dimanfaatkan oleh sekitar 120 kepala keluarga. Selain kompos, warga juga mendapat manfaat ekonomi dari bank sampah anorganik yang telah berjalan sejak 2018.

"Manfaat dari hasil panen biopori ini berkesinambungan terus karena dipakai juga untuk pupuk tanaman yang ada di sini," ujarnya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |