REPUBLIKA.CO.ID, Pembangunan infrastruktur energi terbarukan berskala raksasa tidak pernah lepas dari bayang-bayang dampak ekologis dan sosial. Sebuah kajian kuantitatif terbaru yang saya susun mengungkapkan bahwa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan Pumped Storage berkapasitas 1.040 megawatt (MW) memiliki Nature-at-Risk Value atau nilai aset alam yang dipertaruhkan hingga mencapai 2,60 miliar dolar AS (setara lebih dari Rp 40 triliun) selama 40 tahun umur proyek.
Proyek prestisius yang dikembangkan oleh PT PLN (Persero) ini berlokasi di daerah aliran sungai (DAS) Cisokan, membelah perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Setelah melalui proses panjang pembaruan dokumen Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) pada tahun 2021, konstruksi utama dikebut agar fasilitas yang didesain sebagai “baterai raksasa” penstabil sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) ini dapat mencapai target commissioning pada tahun 2028.
Namun, bagaimana cara kita menilai risiko dan kelayakan proyek masif ini dari kacamata ekologi yang terukur secara finansial? Jawabannya ada pada kerangka kerja mutakhir bernama TNFD.
Sebagai catatan penting, kajian TNFD pada proyek PLTA Upper Cisokan Pumped Storage 1.040 MW ini memadukan data riil dari dokumen ESIA 2021 dengan estimasi terukur penulis, sehingga secara keseluruhan mampu menyajikan gambaran analisis TNFD yang utuh dan komprehensif.
Singkatnya, kajian ini bersifat simulasi atau semi-simulasi dengan sebagian data diambil dari dokumen ESIA 2021 sebagai proxy dan selebihnya digunakan proyeksi angka-angka yang logis dan relevan.
Mengenal TNFD: dari krisis iklim menuju kesadaran ekosistem global
Sebelum membedah lebih jauh angka-angka di proyek Cisokan, penting untuk memahami apa itu The Nature-related Financial Disclosure (TNFD).
Secara historis, TNFD lahir dari kesadaran mendesak komunitas finansial global bahwa krisis lingkungan tidak hanya sebatas emisi karbon dan pemanasan global. Pada tahun-tahun sebelumnya, dunia bisnis telah memiliki TCFD (Task Force on Climate-related Financial Disclosures) yang fokus pada risiko iklim dan isu-isu keberlanjutan.
Namun, para pakar menyadari ada celah besar, yakni hilangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan ekosistem (seperti krisis air dan deforestasi) yang juga mengancam stabilitas ekonomi dunia secara langsung.
Oleh karena itu, pada pertengahan 2021, inisiatif TNFD mulai dibentuk dengan dukungan dari PBB (UNEP FI dan UNDP), WWF, dan Global Canopy. Setelah melalui serangkaian uji coba global, kerangka kerja TNFD versi final (v1.0) resmi diluncurkan pada September 2023.
Tujuan utama TNFD adalah menyediakan kerangka pelaporan standar bagi perusahaan dan lembaga keuangan untuk mengidentifikasi, menilai, mengelola, dan mengungkapkan ketergantungan serta dampak mereka terhadap alam.Melalui pendekatan inti yang disebut LEAP (Locate, Evaluate, Assess, Prepare), TNFD mendorong korporasi untuk berhenti melihat alam sekadar sebagai lahan eksploitasi, melainkan sebagai aset neraca (balance sheet) yang memiliki nilai moneter dan risiko finansial yang nyata.

4 hours ago
3






































