REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pernahkah kamu merasakan sensasi terbakar di dada atau rasa asam yang tiba-tiba naik ke tenggorokan setelah makan? Keluhan yang sering disebut sebagai heartburn ini merupakan gejala utama dari asam lambung dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Kondisi ini terjadi ketika cairan asam dari lambung mengalir kembali ke kerongkongan, memicu iritasi yang tidak nyaman. Memahami pemicu asam lambung dinilai sebagai langkah pertama untuk meredakannya. Ternyata, penyebabnya bukan sekadar telat makan. Berikut adalah sembilan faktor utama yang memicu asam lambung dan GERD yang perlu diwaspadai:
1. Pilihan makanan dan minuman
Apa yang kamu konsumsi berperan besar terhadap kesehatan lambung. Beberapa jenis makanan dapat mengendurkan otot kerongkongan bawah (lower esophageal sphincter/LES) yang seharusnya bertugas menjaga asam tetap di lambung. Daftar pemicunya meliputi:
-Minuman beralkohol dan berkafein seperti kopi dan teh.
-Cokelat dan daun mint yang dapat mengendurkan katup lambung.
-Makanan pedas dan berlemak tinggi yang sulit dicerna.
-Buah sitrus (jeruk) dan tomat yang bersifat asam.
2. Hernia hiatal
Ini adalah kondisi fisik di mana bagian atas lambung menonjol masuk ke rongga dada melalui lubang di diafragma. Benjolan ini menghalangi katup kerongkongan (LES) untuk menutup dengan sempurna. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang di atas usia 50 tahun atau mereka yang memiliki berat badan berlebih.
3. Kebiasaan berbaring setelah makan kenyang
Kebiasaan langsung tidur setelah makan besar sangat berisiko. Dokter spesialis gastroenterologi asal New York, dr Elena Ivanina, DO, MPH, mengatakan makan tepat sebelum berbaring memicu refluks karena lambung dalam kondisi penuh saat seseorang terlentang. “Sehingga memudahkan asam untuk naik kembali ke kerongkongan. Porsi makan yang besar juga dapat menekan dinding kerongkongan dan meningkatkan paparan asam,” ujarnya dikutip dari laman Health pada Senin (26/1/2026). Disarankan untuk makan dalam porsi kecil namun sering, serta memberi jeda minimal tiga jam sebelum berbaring.
4. Konsumsi obat-obatan tertentu
Beberapa obat medis ternyata memiliki efek samping yang melemahkan katup kerongkongan atau mengiritasi lambung. Beberapa di antaranya adalah:
-Obat tekanan darah jenis penghambat saluran kalsium.
-Antibiotik tertentu seperti tetrasiklin.
-Obat pereda nyeri seperti ibuprofen (Advil, Motrin) dan aspirin.
-Obat penenang seperti benzodiazepine dan antidepresan trisiklik.
5. Obesitas
Berat badan berlebih, terutama lemak di area perut (obesitas sentral), adalah faktor risiko utama. Lemak perut memberikan tekanan fisik ekstra pada lambung yang memaksa asam naik ke atas. Selain itu, kadar hormon estrogen yang lebih tinggi pada orang dengan obesitas juga dikaitkan dengan peningkatan gejala GERD.
6. Masa kehamilan
Asam lambung sangat umum terjadi selama kehamilan. Mantan presiden American College of Gastroenterology, dr Lawrence Schiller mengatakan sering kali faktor hormon yang menjadi penyebabnya. "Rahim yang membesar memberikan tekanan pada perut, ditambah kadar hormon yang tinggi cenderung membuat otot katup kerongkongan menjadi rileks,” ujarnya.
7. Skleroderma
Skleroderma adalah penyakit autoimun yang menyerang jaringan ikat. Kondisi ini dapat menyebabkan jaringan parut pada sistem pencernaan, yang membuat gerakan makanan melambat dan mencegah katup kerongkongan menutup rapat. Hal ini memicu gejala pencernaan lain seperti sembelit dan diare.
8. Kebiasaan merokok
Merokok merusak sistem pencernaan dengan cara menurunkan tekanan katup kerongkongan dan mengurangi kemampuan kerongkongan untuk membersihkan asam. Dokter Schiller juga mengatakan batuk kronis akibat merokok meningkatkan tekanan di dalam perut yang secara aktif mempromosikan refluks asam.
9. Stres dan kecemasan
Penelitian menunjukkan kecemasan dan depresi dapat meningkatkan produksi asam lambung. Selain itu, stres sering kali memicu perilaku buruk lainnya seperti merokok, minum alkohol, atau makan berlebihan yang memperparah kondisi lambung.

1 week ago
32




































