Jatuh Bangun Perjalanan BCA Syariah: Dari Aset Rp 607 Miliar, Kini Hampir Rp 20 Triliun

21 hours ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejak beroperasi pada 5 April 2010, PT Bank BCA Syariah mengalami dinamika perjalanan yang bisa disebut jatuh bangun. Bank yang merupakan hasil konversi dari akuisisi PT BCA terhadap PT Bank Utama Internasional Bank (UIB) tersebut telah mencatatkan pertumbuhan yang cukup positif selama 16 tahun sebagai salah satu pelaku industri perbankan syariah di Indonesia.

Wakil Presiden Direktur BCA Syariah John Kosasih menceritakan perjalanan BCA Syariah pertama kali masuk ke dalam industri perbankan syariah hingga saat ini. Menurutnya, keinginan untuk masuk ke industri perbankan syariah sudah muncul cukup lama sebelum mulai beroperasi.

“Sebenarnya keinginan kami masuk ke industri perbankan syariah jauh sebelum itu. Kami ingin ke sana karena melihat potensi bahwa penduduk di Indonesia mayoritas adalah Muslim, sehingga potensinya mestinya sangat besar,” ungkap John saat hadir dalam agenda ‘Hijrah Finansial’ bertajuk ‘Perbankan Syariah sebagai Solusi Keuangan Inklusif dan Berkelanjutan’ yang digelar secara daring oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) pada Jumat (10/4/2026).

John mengungkapkan, sebelum BCA Syariah masuk ke industri perbankan syariah dan beroperasi pada 2010, dilakukan survei terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat inklusivitas, awareness, dan penetrasi. Survei tersebut terutama ditujukan kepada para nasabah BCA.

“Hal yang menarik, ketika itu ternyata 10–15 persen (responden) mengharapkan harus syariah. Kemudian 10–15 persen yang penting konvensional. Dan rupanya yang paling besar, sekitar 70–80 persen, adalah rasionalis, bahwa produk, layanan, keamanan, dan kenyamanan dalam transaksi harus terpenuhi dengan baik,” terangnya.

Survei tersebut juga memberikan pertanyaan kepada nasabah BCA mengenai kesediaan mereka untuk masuk ke BCA Syariah. Menurut penjelasan John, banyak nasabah BCA yang tertarik untuk bergabung dengan BCA Syariah.

Dari hasil survei tersebut, BCA Syariah semakin matang untuk dibentuk, dengan asumsi akan banyak peminatnya. Pada medio 2009 hingga awal 2010, BCA Syariah turut memasang logo BCA untuk menarik minat nasabah.

“Zaman dulu ada istilah Bank Capek Antre (plesetan akronim BCA). Jadi, kami berpikir bahwa kalau ada logo BCA di depan BCA Syariah, orang akan antre di depan pintu. Ekspektasi kami besar sekali. Namun ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Jadi, ekspektasi dengan realisasi tidak sama,” ungkap John.

Menurut John, penggunaan logo BCA justru menjadi tantangan tersendiri pada waktu itu. Sebab, ekspektasi masyarakat juga tinggi terkait layanan, keamanan, kenyamanan, serta kelengkapan produk atau fitur yang dianggap setara dengan BCA. Padahal, BCA Syariah masih sangat baru saat itu.

“Ketika awal berdiri, para nasabah bahkan yang sudah masuk mencoba check out. Kami sempat ragu-ragu. Kami meminta bantuan Bank Indonesia untuk mengundang para nasabah besar agar mereka berkenan untuk tetap di BCA Syariah. Kami beri sosialisasi mengenai perbankan syariah dan memberikan kepercayaan kepada mereka agar tidak keluar dari BCA Syariah,” kata John.

John mengungkapkan, pada saat itu BCA Syariah benar-benar mengalami masa sulit. Jumlah aset, pembiayaan, hingga jumlah nasabah masih minim sehingga membutuhkan upaya keras untuk membangun kepercayaan masyarakat.

“Pada Juni 2009, total aset BCA Syariah hanya sekitar Rp 607 miliar. Pembiayaan hanya Rp 360 miliar, dan pendanaan Rp 500 miliar. Saat itu terjadi rush, sehingga profitabilitas bank juga negatif. Kami hanya memiliki sekitar 5.000 rekening, debitur sekitar 1.700, jaringan kantor sekitar 13, dan total karyawan hanya 190 orang,” terangnya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |