Sabtu 28 Feb 2026 16:01 WIB
Menurut dokter, pemberian vaksin campak perlu dilakukan sebanyak tiga kali.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Tenaga kesehatan bersiap menyuntikan vaksin imunisasi kepada anak di RPTRA Flamboyan, Kelurahan Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Rabu, (4/6/2025). Puskesmas Kecamatan Tebet menggelar Gebyar Imunisasi sebagai upaya meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap serta mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak-anak usia dini. Vaksin imunisasi yang diberikan dalam kegiatan ini diantaranya Bacile Calmerte Guerin (BCG), Difteri Pertusis dan Detanus (DPT), Campak, Pneumococcal Conjugate Vaccine 3 (PCV3) dan sebagainya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropis, Prof dr Anggraini Alam, menekankan pentingnya imunisasi campak lengkap bagi anak-anak. Menurutnya, pemberian vaksin campak perlu dilakukan sebanyak tiga kali untuk memastikan antibodi terbentuk optimal.
"Jadi tiga kali pemberian imunisasi campak. Mengapa kok berulang-ulang? Karena ini untuk melemahkan virus, tentunya membutuhkan dosis telt dan berulang agar antibodi bisa tinggi sehingga tidak terkena campak," kata Prof Anggraini dalam diskusi virtual pada Sabtu (28/2/2026).
Prof Anggaraini turut menanggapi mitos yang beredar terkait vaksin, seperti klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme. Menurutnya, klaim ini sudah usang dan tidak memiliki dasar ilmiah.
"Sudah ada empat studi besar yang melibatkan hingga 23 juta anak, termasuk penelitian di Denmark dengan 500 ribu hingga 1,25 juta anak. Semua menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksin campak dengan autisme. Mitos ini berasal dari penelitian tahun 1998 yang sudah ditarik kembali," kata dia.
Ia juga membantah anggapan sebagian masyarakat yang enggan divaksin dan hanya mengandalkan kekebalan alami. Prof Anggraini mengingatkan bahwa komplikasi campak bisa sangat berat bahkan bisa menyebabkan kematian.
"Kalau ada yang bilang nggak mau divaksin, waduh kan tahu sendiri ya komplikasi campak itu serius sekali. Jadi paling aman ya lengkapi imunisasi campak," ujar Prof Anggraini.
Berita Lainnya
-
Sabtu , 28 Feb 2026, 16:01 WIB
Ini Alasan Imunisasi Campak Anak tak Cukup Sekali
-
-
Sabtu , 28 Feb 2026, 13:13 WIB
Ketua IDAl: Lonjakan Kasus Campak Jadi Alarm Serius, Bukan Penyakit Ringan
-
Sabtu , 28 Feb 2026, 12:47 WIB
Mengapa Belum Ada Aktor yang Diumumkan Sebagai Pemeran Baru James Bond?
-
Sabtu , 28 Feb 2026, 12:45 WIB
Pertamina Patra Niaga Hadirkan Momen Ramadan dan Idul Fitri dengan Promo Spesial
-
Sabtu , 28 Feb 2026, 08:59 WIB
Tragedi Pembacokan di UIN Suska Riau, Saat Harapan Skripsi Terhenti oleh Sabetan Kapak Buta
-

13 hours ago
11






































