Dampak Fatal Akibat Salah Tafsir: Malaikat Jibril, Wahyu, dan Dhamir yang Tertukar

13 hours ago 13

Image Muhammad Izuddin

Agama | 2026-06-23 11:00:57

Empat belas abad yang lalu, di sebuah gua sunyi di atas Jabal Nur, seorang lelaki berusia empat puluh tahun merasakan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebuah pertemuan yang tak terduga, dengan pelukan yang kuat, napas yang tersengal, hingga suara yang mengguncang seluruh kesadarnnya. Iqra’. Pertemuan itu kelak menjadi titik awal sejarah Islam, dan titik balik berubahnya sejarah dunia. Dari situlah, Muhammad diangkat menjadi nabi dan menerima wahyu-wahyu Allah lainnya. Para perawi hadis mengabadikan kejadian ini menjadi memori kolektif umat islam hingga berabad-abad.

Namun, di paruh abad kedua abad ke-20, seorang sarjana Barat dengan reputasi akademik yang tak diragukan lagi justru mengajukan kesimpulan yang mengejutkan. Watt Montgomery, seorang orientalis skotlandia terkemuka, menyimpulkan dalam Muhammad at Mecca,bahwa Muhammad tidak pernah bertemu dan menerima wahyu dari malaikat yang bernama Jibril. Lebih mengejutkan lagi, deduksinya tersebut diambil dari penelitiannya terhadap sumber-sumber primer Islam langsung, bukan atas tuduhan pribadi. Menurutnya, Jibril tidak pernah disebutkan pada ayat-ayat Makkiyah – periode paling krusial dalam sejarah kenabian Muhammad.

Watt bukanlah orientalis pembenci Islam, sebaliknya, Watt dikenal dengan pendekatannya yang simpatik dan objektif terhadap Islam. Inilah yang membuat argumennya sulit diabaikan. Bagaimanpun, deduksi Watt yang kontroversial itu mungkin bukan didasari atas rasa membenci Islam, namun, dibalik hipotesanya yang kokoh itu, tersembunyi sebuah kekeliruan interpretasi yang tampak sederhana namun fatal.

Watt melakukan pengkajian secara langsung pada surah An-Najm ayat 1-18. Ayat-ayat tersebut menyinggung secara langsung tentang pewahyuan kepada Nabi Muhammad. Dalam kajiannya, Watt tidak menemukan satupun dari ayat ayat tersebut yang menyebut Jibril ataupun menyinggungnya. Jika Jibril memang adalah perantara utama antara Allah dan Muhammad, mengapa ia tidak pernah disebutkan pada ayat-ayat itu? Seolah-olah kehadirannya menghilang atau bahkan tidak pernah ada. Dari sinilah Watt membangun argumennya, bahwa pengalaman Muhammad menerima wahyu kemungkinan besar merupakan proses yang lebih bersifat internal – bukan perjumpaan nyata dengan malaikay yang Bernama Jibril.

Kendati demikian, kita tidak bisa menelan mentah-mentah deduksi Watt tersebut, apalagi sosok malaikat Jibril sudah mutawatir kepastiannya dengan banyaknya iwayat hadis yang menyebutkan. Bahkan, pada Al-Quran sendiri – di mana Watt gagal menemukannya – sosok Jibril berulang kali disinggung pada Al-Quran dalam bentuk adjektif, nama lain, atau pada bentuk kata ganti.

Sekarang mari kita membedah surah An-Najm 1-18. Bagian ini bukanlah sembarangan, ia adalah salah satu deskripsi Al-Quran paling vivid tentang pengalaman Nabi Muhammad menerima wahyu secara langsung. Allah bersumpah demi bintang, lalu melukiskan sebuah sosok yang mendatangi Muhammad. Sosok tersebut berdiri di ufuk tertinggi, lalu mendekat, lalu menyampaikan sesuatu hingga jaraknya hanya “dua ujung busur atau lebih dekat lagi”.

Memang benar, pada ayat-ayat tersebut nama Jibril tidak tersebut secara langsung, secara tekstual ini memang benar. Namun, di sinilah kekeliruan itu bermula: Watt memperlakukan ketiadaan penyebutan nama dengan ketiadaan sosok. Padahal para mufasir Muslim terkemuka – dari generasi sahabat, tabi’in, hingga ulama klasik seperti Ibnu Katsir dan At-Tabari – telah sepakat bahwa sosok yang digambarkan dalam An-Najm ayat 5 hingga 18 adalah Jibril.

Salah satu bantahan telak pada argumen Watt yaitu kesalahannya dalam menterjemahkan surah An-Najm Ayat 10. Pada ayat tersebut disebutkan:

فأوحى إلَى عَبدِهِ مَا أَوحَى

“Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah dia wahyukan”

Ayat ini tampak sederhana, bahkan sekilas ambigu. Namun di sinilah kesalahan fatal Watt. Watt beranggapan bahwa fa’il / subjek dari kata Awha keduanya adalah sama, yakni Allah. Dengan demikian – dalam terjemah versi Watt – ayat tersebut berbunyi: “Allah mensugestkani kepada hambanya apa yang Allah sugestikan”. Pada terjemahan tersebut ada tiga kesalahan Watt. Pertama, bahwa fa’il/subjek dari kedua kata Awha tersebut sejatinya berbeda. Awha pertama merujuk kepada Jibril, sedangkan Awha kedua merujuk kepada Allah. Kedua, kata dhamir tersebut tidak Kembali pada fiil yang pertama, melainkan Kembali kepada fiil (Awha) setelahnya. Ketiga, menterjemahkan kata Awha dengan suggest (pada terjemah Inggrisnya) kurang tepat, karena wahyu adalah penyingkapan. Maka dari itu, terjemah yang tepat seharusnya adalah reveal.

Maka dari itu, terjemah yang tepat dari ayat 10 surah An-Najm itu ialah:

“Dia (Jibril) mewahyukan kepada hamba-Nya (Allah) apa yang telah ia (Allah) wahyukan.

Kekeliruan Watt semakin terlihat jelas ketika kita memperluas pencarian melampaui An-Najm. Sebab ternyata, Jibril hadir di banyak ayat Makkiyah lainnya — hanya saja ia hadir dengan cara yang berbeda: melalui nama lain, kata sifat, dan kata ganti yang merujuk kepadanya secara kontekstual.

Ambil contoh Surah Asy-Syu'ara ayat 193:

وَ إِنَّهُ لَتَنزِيلٌ مِن رَبِّ العَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ رُوحُ الأَمِين

"Dan sungguh, Al-Qur'an ini diturunkan oleh Tuhan semesta alam, yang dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin."

Surah ini adalah Makkiyah. Dan Ar-Ruhul Amin — "Ruh yang terpercaya" — adalah salah satu sebutan Jibril yang paling dikenal dalam tradisi tafsir Islam. Jibril ada di sana. Hanya saja ia tidak memakai "nama depannya

Letak kesalahan Watt bukan pada niatnya, melainkan pada pemahamannya yang kurang pada Bahasa Arab klasik, dhamir, dan kata sifat. Watt gagal menangkap konteks dari ayat tersebut. Hal ini menyadarkan kita bahwa sebuah teks – Apalagi teks suci – tidak bisa dibaca hanya dengan satu kaca mata. Bahkan seorang professor sekaliber Watt bisa tersandung pada asumsi sederhana karena kesalahan terjemah beberapa ayat. Hal ini juga mengingatkan kita betapa bahayanya membaca teks keagamaan secara parsial tanpa mempertimbangakan tradisi penafsiran oleh para sarjana Muslim yang jelas jelas lebih memahami Bahasa Arab secara makna, gramatika, balaghah, hadis hadis penjelas, dan konteks sejarah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |