Bandara Sanaa Diserang, Houthi Ancam Serangan Besar ke Saudi

21 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA – Angkatan Bersenjata kelompok Ansharullah Houthi di Yaman (YAF) menyatakan bahwa pesawat tempur Saudi menargetkan Bandara Internasional Sanaa pada Senin. Ini memicu operasi militer balasan dengan sasaran Bandara Internasional Abha menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).

Serangan resmi diklaim pasukan pemerintah yang membom landasan pacu bandara pada hari Senin untuk mencegah pendaratan pesawat yang membawa delegasi Houthi dari Iran. Namun pihak Houthi meyakini Saudi berada dibalik serangan itu.

Hal itu diumumkan juru bicara YAF, Brigadir Jenderal Yahya Saree semalam. "Pasukan kami menghadapi pesawat koalisi Saudi yang melancarkan serangan terhadap Bandara Sanaa," ujarnya dilansir Almayadeen.

"Di saat musuh Saudi terus mempertahankan blokade yang tidak adil terhadap rakyat Yaman, tepat pada pukul 13.54 hari ini, Senin, musuh Saudi melancarkan tindakan agresi nyata menggunakan pesawat tempur terhadap Bandara Internasional Sanaa. Mereka melakukan beberapa serangan udara dengan tujuan melumpuhkan operasional bandara bagi penerbangan kemanusiaan yang mengangkut pasien serta warga sipil yang terlantar dari dan menuju Bandara Internasional Sanaa," ujarnya.

Pada 26 Maret 2015, Raja Salman bin Abdulaziz memerintahkan dimulainya operasi militer terhadap kelompok Houthi setelah kelompok tersebut menguasai ibu kota Sanaa dan terus bergerak menuju Aden, tempat Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi berlindung. Operasi untuk mendukung pemerintahan status quo itu didukung sejumlah negara Teluk.

Aksi militer Saudi memertahankan Presiden Hadi tak berhasil mematahkan Kelompok Houthi yang masih menguasai sebagian wilayah Yaman, terutama ibu kota Sanaa. Aksi Saudi dan koalisi juga menyebabkan bencana kemanusiaan di Yaman.

Sejak koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi dalam konflik Yaman, setidaknya 150.000 hingga lebih dari 377.000 orang telah terbunuh oleh kekerasan militer langsung dan penyebab tidak langsung seperti kelaparan dan penyakit.

Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED) dan Proyek Data Yaman mencatat lebih dari 150.000 kematian akibat aksi militer langsung seperti pengeboman, artileri, dan pertempuran darat sejak tahun 2015. 

Serangan udara koalisi yang dipimpin Saudi saja telah mengakibatkan sekitar 19.200 korban sipil terbunuh dan cacat, dengan hampir 9.000 kematian warga sipil dicatat langsung akibat kampanye pemboman tertentu. 

Dewan Hubungan Luar Negeri mencatat bahwa 60 persen dari perkiraan 377.000 kematian antara tahun 2015 dan 2022 disebabkan oleh penyebab tidak langsung seperti kerawanan pangan, kurangnya akses terhadap layanan medis, dan wabah kolera yang dipicu oleh konflik. 

Organisasi kemanusiaan, seperti Global Center for the Responsibility to Protect, menyoroti bahwa serangan udara ini telah berulang kali menghantam infrastruktur penting sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, pasar, dan kapal nelayan.

Saudi dan kelompok Houthi yang beraliran Syiah Zaidi sedianya telah menyepakati gencatan senjata pada 2022. Gencatan senjata itu memungkinkan kelompok Houthi yang didukung Iran untuk melakukan serangkaian tekanan terhadap Israel agar menghentikan genosida di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023.

Amerika Serikat harus turun tangan melakukan serangan ke Yaman untuk menyetop aksi kelompok Houthi. Setelah kerugian besar pada militer AS di Laut Merah, gencatan senjata dengan Houthi disepakati pada 2035.

Belakangan, Houthi ikut kembali mengancam akan menutup Laut Merah menyusul serangan AS-Israel ke Iran pada Februari 2026, hingga akhirnya militer pemerintah melakukan pengeboman terhadap Bandara Sanaa, kemarin.

Kelompok Houthi telah bersumpah untuk membalas tindakan Arab Saudi. Mereka menegaskan bahwa serangan yang menyasar jalur vital bagi Sanaa tersebut merupakan tindakan perang yang mengakhiri segala pretensi gencatan senjata. 

Media Militer Houthi mengidentifikasi sejumlah bandara, pelabuhan, dan fasilitas minyak utama Arab Saudi sebagai target potensial setelah Riyadh menyerang Bandara Internasional Sanaa; hal ini mengisyaratkan bahwa Yaman tidak akan membiarkan kedaulatan atau infrastruktur sipilnya dilanggar tanpa konsekuensi. Media Militer Houthi merilis rekaman video bertajuk "Balasan akan datang," yang menampilkan beberapa bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi strategis di seluruh Arab Saudi menyusul serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa. 

Pemetaan fasilitas Rekaman tersebut menandai lokasi Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam. 

Video itu juga mengidentifikasi Pelabuhan Jazan, Pelabuhan Islam Jeddah, Pelabuhan Industri King Fahd, serta kilang dan kompleks ekspor minyak Ras Tanura. Lokasi-lokasi yang ditampilkan dalam rekaman tersebut membentang dari ibu kota Saudi dan pesisir Laut Merah hingga Provinsi Timur penghasil minyak, yang menunjukkan jangkauan kemampuan rudal dan pesawat nirawak (drone) Yaman. 

Bandara Internasional King Khalid melayani rute ke Riyadh, sementara bandara di Jeddah dan Dammam termasuk di antara pusat penerbangan sipil dan komersial terpenting di Arab Saudi. Pelabuhan Jazan dan Jeddah sangat vital bagi perdagangan dan aktivitas maritim Saudi, sedangkan Pelabuhan Industri King Fahd dan Ras Tanura merupakan bagian sentral dari infrastruktur perminyakan dan ekspor Kerajaan tersebut. 

Rekaman itu tidak menyatakan bahwa setiap lokasi yang tercantum pasti akan menjadi sasaran serangan. Namun, video tersebut menyampaikan peringatan tegas bahwa Riyadh tidak bisa berharap dapat menyerang Yaman sembari tetap menjaga keamanan penuh bagi ekonomi dan infrastrukturnya sendiri.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |