Nur Lailatul Aini
Kultura | 2026-07-08 23:00:36
Patrol merupakan salah satu bentuk seni musik tradisional Indonesia yang perkembangan dan penyebarannya sudah berlangsung sejak masa sebelum masuknya Islam ke Nusantara. Dalam sejarahnya, musik patrol dimanfaatkan masyarakat sebagai media komunikasi untuk menyebarkan informasi atau pemberitahuan, seperti dalam kegiatan ronda malam, pemberitahuan bencana, dan penanda waktu. Alat yang digunakan pun masih sederhana, yaitu beberapa kentongan dalam berbagai ukuran.
Musik Patrol. Sumber: https://versilama.budaya-indonesia.org/Musik-Patrol
Karena melihat alat musik yang digunakan tersebut, masyarakat biasanya menyebut musik patrol sebagai musik kentongan. Berbagai kentongan ini dimainkan secara bersama-sama sehingga menciptakan perpaduan irama. Kentongan sendiri pada awalnya memang tidak menghasilkan nada seperti alat musik lainnya, tetapi dengan dimainkan secara kolektif dan bersahut-sahutan, alat ini dapat menciptakan irama yang khas.
Seiring dengan perkembangan zaman, musik patrol di beberapa daerah tidak lagi sekadar menjadi media untuk menyebarkan informasi. Pada zaman dahulu, ketika teknologi elektronik belum berkembang seperti sekarang, alat kentongan memang dimanfaatkan dalam ronda malam, pemberitahuan informasi bencana, penanda waktu, hingga untuk membangunkan sahur serta menyemarakkan suasana ketika memasuki bulan Ramadhan di malam hari.
Namun kini, kesenian musik patrol tidak hanya menggunakan alat kentongan, tetapi juga dikembangkan menjadi pertunjukan kesenian musik dengan menambahkan beberapa instrumen lain, seperti drum, kenong, gong, quarto, hingga tamborin. Perpaduan musik tradisional yang diberikan elemen modern ini terbukti dapat memeriahkan kesenian sekaligus menarik minat anak-anak muda, sehingga kesenian musik ini dapat senantiasa dilestarikan.
Perkembangan musik patrol ini pun berbeda-beda di setiap daerah. Di Surabaya, kesenian musik patrol dipelopori oleh komunitas GAMAN (Gerakan Anak Muda Anti Narkoba) sejak tahun 2010 di daerah Manukan. Kesenian musik patrol ini sengaja dijadikan media untuk mencegah kenakalan remaja dan menciptakan generasi yang berkualitas.
Dalam gerakannya, GAMAN melibatkan masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai rutinitas komunitas mereka serta memberikan edukasi tentang norma, nilai, dan moralitas. Hal ini menunjukkan bahwa GAMAN berhasil memberikan nilai-nilai positif kepada masyarakat. Mereka berhasil melakukan transformasi musik patrol yang dulunya adalah alat penyebar informasi menjadi sebuah pertunjukan musik yang menarik, sehingga dapat membantu melestarikan kesenian tersebut serta menarik minat generasi muda. Melalui kesibukan dalam berbagai pertunjukan musik patrol ini, anak-anak muda dapat lupa akan narkoba dan tindakan tercela lainnya.
Meskipun kegiatan musik patrol oleh GAMAN ini memberikan banyak manfaat positif, kegiatan ini pernah mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat sekitar yang merasa bahwa musik patrol menimbulkan suara berisik dan gaduh. Namun pada akhirnya, konflik ini dapat diselesaikan dengan baik melalui sosialisasi dan mengembangkan rasa untuk saling menghargai.
Secara keseluruhan, musik patrol mengandung nilai sosial yang kuat karena lahir dari praktik kebersamaan masyarakat, di mana permainan kentongan secara kolektif mencerminkan semangat gotong royong dan solidaritas. Selain itu, musik patrol juga mengandung nilai estetis yang dapat dilihat dari kreativitas komunitas GAMAN dalam mengembangkan musik kentongan, dari yang awalnya tidak memiliki nada menjadi perpaduan irama yang indah saat dimainkan secara bersamaan.
Dari sisi makna, musik patrol dapat dipahami sebagai bentuk invented tradition, yakni tradisi yang terus direkonstruksi sesuai kebutuhan zaman tanpa memutus hubungan dengan masa lalu. Transformasi fungsi dari alat komunikasi masa lalu menjadi sebuah pertunjukan seni modern seperti sekarang menunjukkan bahwa identitas budaya bersifat dinamis, sekaligus menjadikan musik patrol sebagai simbol ketahanan budaya lokal dalam menghadapi arus globalisasi.
Referensi
Julista Ratna Sari, “Musik Patrol dan Identitas Sosial GAMAN di Surabaya,” Resital: Jurnal Seni Pertunjukan 18, no. 3 (2017): 169.
Balda Warda, “Peranan Eksistensi Grup Musik Patrol ‘Putro Nanggal’ dalam Perkembangan Pembangunan Kampung Rungkut Menanggal,” Repertoar Journal 3, no. 2 (2023): 251.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

16 hours ago
11










































