
Oleh : Hendarman, Ketua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan (JFAK) INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah dinamika pembangunan yang semakin kompleks, satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah bahwa kebijakan publik bukan sekadar produk administratif, melainkan sinyal kepercayaan. Setiap kebijakan yang diumumkan pemerintah sesungguhnya sedang “dibaca” oleh publik, bukan hanya isinya, tetapi juga cara kebijakan itu disusun. Ketika kebijakan hadir secara mendadak, berubah-ubah, atau minim penjelasan, yang muncul bukan hanya kebingungan, tetapi juga kegaduhan di ruang publik.
Sudah cukup sering disaksikan bagaimana sebuah kebijakan yang sebenarnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah justru memicu polemik berkepanjangan. Bukan semata karena substansinya keliru, tetapi karena prosesnya tidak cukup kuat untuk membangun legitimasi. Disinilah letak persoalan mendasar yaitu bahwa kredibilitas kebijakan tidak hanya ditentukan oleh “apa” yang diputuskan, tetapi juga “bagaimana” keputusan itu dibuat.
Harus diakui bahwa kualitas kebijakan publik sangat menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Kebijakan yang berubah terlalu cepat atau terlihat mendadak akan dengan mudah menimbulkan persepsi ketidakpastian. Dalam konteks ini, publik tidak hanya mempertanyakan isi kebijakan, tetapi juga kapasitas dan konsistensi para pengambil kebijakan itu sendiri.
Memastikan Kredibilitas
Kebijakan yang dirumuskan melalui proses yang transparan, berbasis data, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan cenderung lebih mudah diterima. Transparansi memberikan ruang bagi publik untuk memahami rasionalitas kebijakan. Basis data memperkuat argumen kebijakan agar tidak dianggap spekulatif. Sementara keterlibatan pemangku kepentingan memastikan bahwa kebijakan tidak terputus dari realitas di lapangan.
Secara teoretis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui apa yang dikenal sebagai credibility thesis. Teori ini menegaskan bahwa keberhasilan suatu institusi atau kebijakan sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan publik terhadapnya. Ini akan diperoleh dengan membangun persepsi tentang legitimasi, transparansi, dan keadilan . Dengan kata lain, kebijakan yang secara teknis benar belum tentu berhasil jika tidak dianggap kredibel oleh masyarakat.
Kegaduhan publik seringkali bukan disebabkan oleh substansi kebijakan semata, melainkan oleh lemahnya proses yang melatarbelakanginya. Ketika kebijakan terlihat mendadak, berubah-ubah, atau tidak konsisten, publik menangkap sinyal ketidakpastian. Dalam perspektif institutional trust, kondisi ini akan menurunkan kepercayaan masyarakat, yang pada gilirannya menghambat implementasi kebijakan.
Namun, membangun kebijakan yang kredibel tidak cukup hanya dengan niat baik. Tidak juga hanya menyampaikan dalam berbagai kesempatan bahwa kebijakan yang dibuat adalah untuk keadilan dan menunjukkan negara hadir dalam kehidupan bermasyarakat. Terdapat sejumlah persyaratan yang perlu dipenuhi.
Pertama, konsistensi arah kebijakan. Salah satu sumber kegaduhan yang paling sering terjadi adalah inkonsistensi, baik antarwaktu maupun antarinstansi. Kebijakan yang hari ini diumumkan, lalu direvisi keesokan harinya, menciptakan ketidakpastian yang mahal biayanya. Dunia usaha menahan investasi, masyarakat bingung mengambil keputusan, dan birokrasi sendiri kehilangan pijakan dalam implementasi.
Kedua, kejelasan komunikasi publik. Tidak sedikit kebijakan yang sebenarnya baik, tetapi gagal dipahami karena komunikasi yang terburu-buru atau tidak utuh. Dalam era digital, kekosongan informasi resmi akan segera diisi oleh spekulasi. Akibatnya, narasi kebijakan menjadi liar dan sulit dikendalikan. Oleh karena itu, komunikasi kebijakan harus dipandang sebagai bagian integral dari desain kebijakan itu sendiri, bukan sekadar tahap akhir setelah kebijakan ditetapkan.
Ketiga, pengujian kebijakan sebelum implementasi luas. Banyak negara telah mengadopsi pendekatan policy piloting atau uji coba terbatas sebelum kebijakan diterapkan secara nasional. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah mengidentifikasi potensi masalah sejak dini dan melakukan penyesuaian tanpa menimbulkan kegaduhan besar. Tanpa tahap ini, kebijakan berisiko menjadi “eksperimen publik” yang mahal.
Keempat, keberanian untuk melibatkan publik secara bermakna. Partisipasi publik bukan sekadar formalitas melalui forum konsultasi, tetapi proses dialog yang sungguh-sungguh. Ketika masyarakat merasa dilibatkan, mereka cenderung lebih menerima, bahkan mungkin akan memberikan dukungan terhadap kebijakan yang tidak sepenuhnya menguntungkan mereka. Sebaliknya, kebijakan yang terasa “dipaksakan dari atas” akan lebih mudah memicu resistensi.
Mengubah Cara Pandang
Pengambil kebijakan perlu melihat proses perumusan kebijakan bukan sekadar tahap administratif, melainkan sebagai investasi strategis. Waktu yang dihabiskan untuk memperkuat proses di awal sering kali jauh lebih kecil dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi kegagalan implementasi di kemudian hari.
Dalam konteks pembangunan nasional yang semakin kompleks, pemerintah memang dituntut untuk responsif dan inovatif. Namun, respons cepat tidak boleh dikorbankan menjadi respons tergesa-gesa. Kebijakan yang inovatif tetap harus berpijak pada realitas, mempertimbangkan kapasitas implementasi, serta menjaga konsistensi dengan kebijakan lain yang sudah ada.
Kebijakan yang dirumuskan dengan matang memang membutuhkan waktu lebih lama pada tahap awal. Tetapi dalam jangka panjang, pendekatan ini justru menghemat biaya sosial, politik, dan ekonomi. Kegaduhan publik dapat diminimalkan, kepercayaan masyarakat terjaga, dan implementasi berjalan lebih efektif.
Pada akhirnya, jika tujuan utama kebijakan publik adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, suak atau tidak, proses perumusannya harus dilakukan dengan kehati-hatian, ketelitian, dan tanggung jawab yang tinggi. Kebijakan yang baik bukanlah kebijakan yang lahir paling cepat, melainkan kebijakan yang mampu bertahan, dipahami, dan memberikan manfaat nyata secara berkelanjutan.
Para pengambil kebijakan perlu menegaskan satu hal, yaitu bahwa kredibilitas bukanlah hasil dari kecepatan, melainkan dari konsistensi dan kualitas proses. Tanpa melakukan itu, setiap kebijakan sebaik apapun niatnya, akan selalu berisiko berubah menjadi sumber kegaduhan, alih-alih solusi bagi masyarakat.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

7 hours ago
10










































