Charm Ajak Remaja Terapkan Gaya Hidup Hijau Lewat Edukasi Menstruasi

12 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Uni-Charm Indonesia Tbk melalui merek pembalut Charm mengajak remaja putri menerapkan gaya hidup ramah lingkungan melalui edukasi kesehatan menstruasi. Program bertajuk School to School Extra Maxi yang digelar sejak April 2026 tersebut telah menjangkau lebih dari 2.000 siswi SMP dan SMA di Jakarta sebagai upaya membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

Presiden Direktur Unicharm, Yasutaka Nishioka, mengatakan edukasi tersebut tidak hanya bertujuan membantu remaja memahami cara memilih pembalut sesuai kebutuhan, tetapi juga menanamkan kebiasaan hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

"Program edukasi School to School Extra Maxi hadir bukan sebatas memberikan pemahaman bagi siswi SMP dan SMA dalam memilih pembalut yang tepat sesuai kebutuhan. Kami membawa misi yang lebih besar, yaitu menginspirasi generasi muda untuk membiasakan gaya hidup ramah lingkungan sejak dini demi melestarikan masa depan bumi," ujar Nishioka dalam keterangannya.

Dalam program tersebut, para peserta memperoleh materi mengenai hubungan antara konsumsi sehari-hari dengan dampaknya terhadap lingkungan. Charm juga mengenalkan penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle) melalui berbagai contoh sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Edukasi tersebut sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap persoalan sampah nasional. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai lebih dari 30 juta ton. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk mengajak masyarakat menerapkan pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Charm juga meluncurkan edisi terbatas Charm Extra Maxi Bio Materials Eco Friendly Package. Produk tersebut menggunakan bio material yang berasal dari organic cotton, minyak nabati, dan tebu pada lapisan pembalut yang bersentuhan langsung dengan kulit.

Selain itu, kemasannya menggunakan bahan kertas yang lebih mudah didaur ulang sekaligus dapat dimanfaatkan kembali sebagai tempat penyimpanan pembalut maupun barang-barang kecil lainnya. Unicharm juga memanfaatkan material Empty Fruit Bunch (EFB) atau limbah tandan kosong kelapa sawit sebagai bagian dari bahan baku karton kemasan luar untuk membantu mengurangi limbah.

Brand Ambassador Charm, Syifa Hadju, mengatakan kebiasaan ramah lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan setiap hari.

"Di sela-sela kesibukan yang padat, aku selalu usahakan membawa tumbler dan tote bag sendiri untuk mengurangi plastik sekali pakai. Selain itu, aku juga mulai mengurangi penggunaan kertas dengan beralih ke skrip digital menggunakan tablet. Untuk urusan memilih produk, aku juga berusaha menggunakan produk yang lebih ramah lingkungan. Aku percaya perubahan besar untuk bumi bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari," ujar Syifa.

Unicharm juga mengungkapkan hasil riset internal pada 2025 yang menunjukkan kepedulian lingkungan mulai memengaruhi pilihan konsumen muda. Hampir 30 persen siswi SMP yang menjadi responden menyatakan bersedia membayar lebih untuk pembalut yang lebih ramah lingkungan. Sementara sekitar 25 persen responden menjadikan aspek ramah lingkungan sebagai salah satu pertimbangan utama saat memilih pembalut untuk penggunaan siang hari.

Nishioka berharap kampanye tersebut dapat mendorong lahirnya kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

"Melalui inisiatif ini, Charm berharap dapat menjadi pelopor tren konsumsi yang lebih ramah lingkungan. Kami ingin setiap pilihan yang dilakukan konsumen tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan dampak positif bagi bumi," kata Nishioka.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |