Candu Berita Buruk: Mengapa Kita Susah Berhenti Doomscrolling?

15 hours ago 11

Image Muhamad Rizky Saputra

Gaya Hidup | 2026-07-09 06:42:43

Ilustrasi kecanduan berita buruk: terobsesi dengan informasi negatif di tengah malam.

Pernahkah Anda membuka media sosial di malam hari dengan niat hanya mencari hiburan selama lima menit, namun berakhir terjaga hingga dini hari hanya untuk membaca berita tentang bencana, konflik politik, atau kasus kriminal? Jika iya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini dikenal dalam dunia psikologi digital sebagai doomscrolling—sebuah kecenderungan di mana seseorang terus-menerus menggulirkan layar gawai untuk mengonsumsi berita atau informasi yang buruk dan menjengkelkan.

Di tengah arus informasi yang mengalir tanpa henti, kebiasaan ini perlahan berubah menjadi konsumsi harian masyarakat modern. Namun, mengapa hal-hal negatif justru membuat kita begitu terpikat dan sulit untuk berpaling?

Sisi Psikologis di Balik Daya Tarik Informasi Negatif

Secara evolusioner, otak manusia memiliki apa yang disebut sebagai bias negativitas (negativity bias). Sejak zaman prasejarah, manusia secara alami lebih peka terhadap ancaman atau bahaya di sekitarnya demi bertahan hidup. Di era modern, kepekaan ini dimanfaatkan secara tidak sengaja oleh algoritma media sosial.

Platform digital dirancang untuk menyajikan konten yang memicu reaksi emosional paling kuat dari penggunanya. Karena berita buruk atau kontroversi memicu rasa cemas dan ingin tahu yang tinggi, interaksi (engagement) pada konten-konton tersebut otomatis melonjak. Akibatnya, algoritma akan terus menyuapi lini masa kita dengan konten sejenis. Tanpa disadari, kita terjebak dalam lingkaran setan informasi yang kita ciptakan sendiri.

Dampak Nyata Terhadap Kesehatan Mental

Meskipun membaca berita bertujuan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru (stay updated), mengonsumsi narasi negatif secara berlebihan memiliki konsekuensi psikologis yang nyata. Berbagai studi literatur menunjukkan bahwa paparan konstan terhadap berita buruk dapat meningkatkan hormon stres (kortisol) di dalam tubuh.

Dampak jangka pendeknya bisa berupa gangguan pola tidur, kecemasan yang meningkat, hingga munculnya perasaan tidak berdaya (helplessness) terhadap kondisi dunia. Dalam jangka panjang, fenomena ini bisa mengikis rasa empati dan membuat seseorang memandang lingkungan sekitarnya dengan kacamata yang penuh kecurigaan dan pesimisme.

Solusi Bijak: Membangun Diet Informasi yang Sehat

Menghindari media sosial sepenuhnya tentu bukan langkah yang realistis di tengah dunia yang serba digital saat ini. Kunci utamanya terletak pada regulasi diri dan pembangunan kesadaran saat berinteraksi dengan teknologi (mindful scrolling).

Ada beberapa langkah taktis yang bisa diterapkan untuk membatasi dampak buruk ini:

  1. Batasi Waktu Penggunaan: Manfaatkan fitur pembatas waktu aplikasi pada gawai, terutama pada jam-jam rentan seperti sebelum tidur dan sesudah bangun pagi.
  2. Kurasi Lini Masa: Secara sadar, mulailah mengikuti (follow) akun-akun yang menyajikan konten edukatif, inspiratif, atau humor sehat untuk menyeimbangkan algoritma.
  3. Saring Sebelum Membaca: Sadari emosi Anda saat membaca sebuah berita. Jika mulai merasa cemas atau sesak, segera matikan layar dan alihkan perhatian ke dunia nyata.

Media sosial adalah alat, dan kendali utama atas apa yang masuk ke dalam pikiran kita tetap berada di tangan kita sendiri. Menjadi warga digital yang cerdas berarti tahu kapan harus mencari informasi, dan tahu kapan harus menekan tombol daya untuk beristirahat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |